Laman

Laman

Rabu, 27 April 2011

Skripsi dengan judul hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan efektifitas mengajar guru di SDIP cahaya insan,cimanggis, depok.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Kepemimpinan merupakan suatu hal yang sangat penting dalam manajemen sebuah lembaga sekolah. Kepemimpinan berkaitan dengan masalah kepala sekolah dalam meningkatkan kesempatan untuk mengadakan pertemuan secara efektif dengan para guru melalui situasi yang kondusif. Prilaku kepala sekolah harus dapat mendorong kinerja para guru dengan menunjukkan rasa bersahabat, dekat, dan penuh pertimbangan terhadap para guru, baik sebagai individu maupun sebagai kelompok untuk bekerja sama dalam rangka mewujudkan tujuan lembaga sekolah.
Menurut R Wayne Pace “Tujuan kepemimpinan adalah membantu orang untuk menegakkan kembali, mempertahankan dan meningkatkan motivasi mereka. Pemimpin bertindak dengan cara-cara yang memperlancar produktivitas, moral tinggi, respon yang energik, kecakapan kerja yang berkualitas, komitmen, efisiensi, sedikit kelemahan, kepuasan, kehadiran dan kesinambungan dalam organisasi”.
Kepala sekolah memiliki peran yang kuat dalam mengkoordinasikan, menggerakkan dan menyerasikan semua sumber daya pendidikan yang tersedia di sekolah. Kepemimpinan kepala sekolah merupakan salah satu faktor yang dapat mendorong sekolah untuk dapat mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah melalui program-program yang dilaksanakan secara terencana dan bertahap. Untuk itu kepemimpinan kepala sekolah turut mempengaruhi keteladanan guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Baik buruknya proses pendidikan disuatu sekolah banyak ditentukan oleh kepemimpinan kepala sekolah, sebab kepala sekolahlah orang yang paling bertanggung jawab atas segala sesuatu yang sudah, sedang dan yang akan terjadi di sekolah tersebut.
Syafaruddin Mengutip pendapat Thomp dalam bukunya “Manajemen lembaga pendidikan islam” “Kepala sekolah adalah orang yang sangat penting dalam sistem sekolah. Mereka mengusahakan, memelihara aturan dan disiplin, menyediakan barang-barang yang diperlukan, melaksanakan dan meningkatkan program sekolah, serta memilih dan mengembangkan pegawai/personil.
Soebagio Atmodiwirio mengutip defenisi kepala sekolah dari Depdikbud (saat ini Diknas), Direktorat sarana dan prasarana Direktorat Jenderal Dikdasmen “Kepala sekolah adalah seorang guru (jabatan fungsional) yang diangkat untuk meduduki jabatan struktural (kepala sekolah) disekolah. ia adalah pejabat yang ditugaskan untuk mengelola sekolah.”
Kepemimpinan yang diwujudkan kepala sekolah melalui model kerja (operating style) atau bekerja sama dengan guru dalam mengajar. melalui apa yang dikatakan dan diperbuat oleh kepala sekolah akan berpengaruh serta membantu guru untuk memperoleh hasil yang diinginkan. konsep model kepemimpinan menunjukkan bahwa kita berurusan dengan kombinasi bahasa dan tindakan. pola bahasa dan tindakan yang bagaimana, yang dapat digunakan kepala sekolah untuk membantu guru mencapai tujuan (efektivitas) pengajaran yang dinginkan.
Berdasarkan pendapat-pendapat diatas, penulis dapat mengemukakan bahwa gaya kepemimpinan kepala sekolah akan mempengaruhi efektivitas kinerja tenaga kependidikan. sehingga, disini juga penulis akan memaparkan tentang efektivitas kegiatan belajar mengajar.
Walter W. McMahon, “Efektivitas mengacu pada pengukuran tingkat pencapaian tujuan pendidikan. ukuran efektivitas adalah tercapainya tujuan yang telah ditetapkan ( ini adalah ukuran efektivitas pada umumnya ). Pengukuran efektivitas ini dapat dilihat dari output dan proses”. output dapat diketahui dari kelulusan siswa yang berkaitan dengan nilai yang dicapai, seberapa besar daya serap siswa terhadap materi yang diajarkan selama kegiatan belajar. sedangkan dari segi proses dapat diketahui dari kegiatan mengajar guru.
Mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasikan atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkan dengan siswa sehingga terjadi proses belajar mengajar. Menurut Moh. Uzer Usman dalam bukunya “Menjadi Guru Profesional” “Proses belajar merupakan suatu proses yang mengandung serangkaian perbuatan guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang berlangsung dalam situasi edukatif untuk mencapai tujuan tertentu.”
Dalam dunia pendidikan efektivitas menyangkut efektivitas belajar siswa dan efektivitas mengajar guru. Efektivitas belajar siswa berarti bahwa apa yang telah dipelajari oleh siswa dapat menimbulkan penguasaan yang tinggi atas bahan-bahan ajaran yang telah disampaikan oleh guru. Sedangkan efektivitas mengajar guru dapat dilihat dari sasaran pendidikan utamanya yang tertuju pada siswa, maka dapat dilihat dari segi kemampuan siswa dalam menguasai materi yang diajarkan dan kemampuan siswa untuk mengaflikasikannya didalam kehidupan sehari-hari.
Agar kegiatan belajar mengajar dapat dilaksanakan secara efektif maka guru harus benar-benar memahami dan melaksanakan tahap-tahap kegiatan belajar mengajar sebelum memulai tugas pengajaran. tahapan kegiatan belajar yang dimulai dari : tahapan persiapan atau perencanaan, tahapan pelaksanaan dan tahapan penilaian.
Efektivitas kegiatan mengajar adalah tolok ukur sampai sejauh mana keberhasilan siswa untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru dengan perumusan tujuan pengajaran guru sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan, dan merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan menggunakan bahan pengajaran yang dapat menimbulkan proses belajar mengajar, sehingga akan tercapai tujuan pengajaran dan kualitas pengajaran dengan kualitas pendidikan yang efektif dan efisien.
Dalam membuat dan melaksanakan tahap-tahap kegiatan belajar mengajar guru terlebih dahulu mengkonfirmasikan kepada kepala sekolah. oleh karena itu, kepala sekolah sangatlah berperan dalam kegiatan tersebut melalui gaya (tindakan) yang diterapkan. kepala sekolah merupakan alat penggerak, penentu arah kebijakan sekolah, yang akan menentukan bagaimana tujuan-tujuan sekolah dan pendidikan pada umumnya. kepala sekolah dituntut untuk senantiasa meningkatkan efektivitas kinerja guru. selain itu kinerja kepemimpinan kepala sekolah dalam kaitannya dengan pengelolaan sumber daya sekolah yang ada untuk mewujudkan tujuan pendidikan secara efektif dan efisien. sehingga dengan kepemipinan yang diterafkan kepala sekolah akan mampu memberdayakan guru-guru dalam melaksanakan proses pengajaran dengan baik, lancar dan sesuai dengan tujuan yang diinginkan, demi terciptanya peserta didik yang berkompeten dan sesuai dengan tujuan pendidikan nasional.
Selain dari beberapa teori tersebut, penulis juga mencantumkan data hasil penelitian tentang model kepemimpinan kepala sekolah yang merupakan salah satu faktor dalam mempengaruhi efektivitas kegiatan pembelajaran. data ini dikutip dari :
Skripsi Siti Sofiah yang berjudul “ Hubungan antara Gaya kepemimpinan Kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru (studi kasus : SMA Islam Panglima besar Soerdirman Cijantung, Jakarta Timur)”, berikut ini adalah hasil dari penelitian yang dilakukan pada tahun 2006 : “Berdasarkan hasil perhitungan dengan menggunakan rumus korelasi product moment terdapat hubungan yang signifikan dengan diketahui nilai rxy (ro) sebesar 0,74 dan nilai rt dengan taraf signifikan 5% adalah 0,273 dan taraf signifikan 1% adalah 0,354. Nilai rxy (ro) lebih besar dari nilai rt (0,507 > 0,273 dan 0,354). hal ini berarti terdapat hubungan yang signifikan dengan tingkat korelasi tinggi/kuat. dan mempunyai pengaruh sebesar 55% antara gaya kepemimpinan kepala sekolah terhadap efektivitas mengajar guru di SMA Islam Panglima besar Soedirman”

Pola dan cara serta metode yang diterapkan kepala sekolah melalui kepemimpinannya akan mempengaruhi para guru dalam mengajar dan murid untuk belajar. Efektivitas mengajar guru akan optimal, jika kepala sekolah dapat mengatur dan membimbing guru-guru secara baik sehingga para guru dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan penuh tanggung jawab, memperhatikan kepentingan dan kesejahteraan bawahannya sehingga tidak ada keluhan dalam menjalankan tugas dan kewajiban sehari-hari, harus menunjukkan kewibawaannya sehari-hari, sehingga dapat diteladani dan dipatuhi oleh para guru maupun siswa. Menetapkan dan sekaligus melaksanakan peraturan-peraturan yang logis dan sistematis, dan dapat diterima oleh semua pihak yang terkait dalam peningkatan efektivitas mengajar guru.
Dinas Pendidikan telah menetapkan bahwa kepala sekolah harus mampu melaksanakan pekerjaannya sebagai edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, innovator, motivator (EMASLIM) . Semua pekerjaannya tersebut harus dipahami oleh kepala sekolah, dan lebih penting adalah bagaimana kepala sekolah mampu mengamalkan dan menjadikan hal tersebut menjadi tindakan nyata disekolah.
Kepala sekolah jangan hanya memimpin sebuah lembaga tanpa memperhatikan aspek-aspek tersebut yang harus dimiliki. Seorang pemimpin jangan hanya bisa mengkritik orang lain/bawahan, sementara dirinya sendiri(pemimpin/ kepala sekolah) tidak memiliki kepribadian yang baik. Jadi kepala sekolah itu harus benar-benar memiliki sesuatu yang unggul dari bawahan, karena kita tahu bahwa pemimpin itu merupakan contoh teladan dan panutan bagi bawahannya. sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Baqarah ayat 44 yaitu :
Artinya; “Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaktian, sedangkan kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca Al Kitab (Taurat)? Maka tidakkah kamu berpikir.”
Seharusnya kepala sekolah melakukan upaya-upaya memberi rewards (penghargaan) dan incentives (kepedulian) bagi guru/staf atas kontribusinya terhadap pengembangan sekolah, dan memberikan punishments (hukuman) bagi anak buah yang meremehkan kualitas, prestasi, standar, dan nilai-nilai yang telah menjadi acuan secara nasional, kepala sekolah juga berkewajiban memastikan bahwa anak buahnya memahami, menyetujui, dan mendapatkan rewards melalui kegiatan-kegiatan yang dilakukannya dalam meningkatkan efektivitas mengajar guru.
Dalam implementasinya, kepala sekolah sebagai leader dapat dilihat dari tiga model kepemimpinan yakni : Otoriter, Demokratis, Laissez-Faire. ketiga model tersebut sering dimiliki secara bersamaan oleh seorang pemimpin, sehingga dalam melaksanakan kepemimpinannya, model tersebut muncul secara situasional. oleh karena itu kepala sekolah sebagai pemimpin mugkin bersifat demokratis, otoriter, dan mungkin bersifat laissez-faire. dengan dimilikinya ketiga model tersebut oleh seorang kepala sekolah sebagai pemimpin, maka dalam menjalankan roda kepemimpinannya disekolah, kepala sekolah dapat menggunakan strategi yang tepat, yang sesuai dengan tingkat kematangan para tenaga kependidikan, dan kombinasi yang tepat antara prilaku tugas dan perilaku hubungan sehigga tercapailah suatu tujuan yang diinginkan. dengan demikian setiap model kepemimpinan yang diterapkan akan berhubungan dengan orang yang dipimpinnya untuk mencapai hasil/tujuan yang diinginkan secara tepat.
Untuk itu, penulis tertarik pada salah satu sekolah swasta yang bernafaskan islam dan telah dikenal baik oleh masyarakat. selain itu, melihat fenomena diatas, tergerak hati penulis untuk menelusuri lebih dalam tentang model kepemimpinan kepala sekolah dalam memimpin sekolah tersebut sekaligus dijadikan entry point dari skripsi penulis, adapun judul skripsi yang ingin penulis teliti adalah : “ HUBUNGAN ANTARA MODEL KEPEMIMPINAN KEPALA SEKOLAH DENGAN EFEKTIVITAS MENGAJAR GURU DI SEKOLAH DASAR ISLAM PLUS “CAHAYA INSAN” DI CIMANGGIS, DEPOK.”

1.2 Identifikasi Masalah
Berkaitan dengan judul skripsi yang ingin penulis teliti, dan untuk mempermudah dalam penyusunannya, maka penulis mengidntifikasi permasalahannya sebagai berikut :
1. Ada banyak model kepemimpinan Kepala sekolah ?
2. Bagaimana efektivitas proses pembelajaran di kelas ?
3. Bagaimana peranan kepala sekolah dalam menangani proses belajar mengajar?
4. Apakah pengajaran yang dilakukan oleh guru telah berhasil ?
5. Apa yang menjadi ukuran dalam menentukan keberhasilan tersebut ?
6. Bagaimana hubungan model kepemimpinan kepala sekolah terhadap efektivitas mengajar guru ?
1.3. Pembatasan Masalah
Mengingat luasnya permasalahan dan keterbatasan dan pengetahuan penulis dari segi waktu, biaya dan energi dalam penyusunan skripsi ini, maka penulis membatasi permasalahannya pada : Model kepemimpinan kepala sekolah terhadap efektivitas mengajar guru.
1.4 Perumusan Masalah
Agar permasalahan dalam skripsi ini lebih terarah, maka penulis merumuskan masalah sebagai berikut :
“Apakah terdapat hubungan antara model kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru ?”
1.5 Kegunaan Penelitian
Penelitian ini diharapkan berguna dalam berbagai hal antara lain:
1. Sebagai bahan masukan bagi kepala sekolah dalam meningkatkan efektivitas mengajar guru.
2. Sebagai bahan masukan bagi guru sehubungan dengan pentingnya kepemimpinan kepala sekolah yang arif dan bijaksana dalam menentukan aktifitas proses belajar mengajar.
3. Diharapkan dapat bermanfaat bagi kepala sekolah dalam upaya meningkatkan efektivitas mengajar guru di sekolahnya.
4. Menambah pengetahuan penulis sendiri dan untuk mengetahui apakah peneliti berhasil dalam penelitiannya.
1.6 Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan pada penulisan skripsi ini yaitu dengan penulisan bab-bab yang setiap babnya terdiri dari sub-bab, dan akan dijelaskan sebagai berikut :
BAB I PENDAHULUAN
Pada bab ini terdiri dari : Latar Belakang Masalah, Identifikasi masalah, Pembatasan Masalah, Perumusan Masalah, Kegunaan Penelitian, Sistematika penulisan.
BAB II KERANGKA TEORITIS DAN HIPOTESIS
Pada kajian teori ini akan membahas tentang : kepemimpinan yang meliputi : Defenisi kepemimpinan, Gaya kepemimpinan (Kepemimpinan Otokratis, Kepemimpinan Laissez Faire, Kepemimpian Demokratis), Efektivitas mengajar mencakup : Defenisi Efektivitas mengajar, Indikator Efektivitas mengajar, Tolok ukur efektivitas mengajar, Faktor yang mempengaruhi Efektivitas mengajar, Kerangka berpikir dan Hipotesis.
BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini terdiri atas : Tujuan penelitian, Tempat dan waktu penelitian, Metode penelitian, Teknik pengambilan Sample, Tehnik Pengumpulan Data, Instrumen Penelitian, Teknik analisa data.

BAB IV HASIL PENELITIAN
Pada bab ini akan di uraikan hasil penelitian yang meliputi : Deskripsi Data Penelitian, Pengujian Persyaratan Data, Pengujian Hipotesis, Interpretasi Hasil Penelitian, Keterbatasan Penelitian.
BAB V PENUTUP
Bab terakhir ini meliputi : Kesimpulan, Implikasi dan Saran-saran.


BAB II
KERANGKA TEORI DAN HIPOTESIS PENELITIAN

2.1. Kepemimpinan
2.1.1 Defenisi Kepemimpinan
Allah SWT berfirman dalam surat At-tahrim ayat 6 sebagai berikut :
ﻴﺍﺍﱞﻴﻬﺍﺍﻟﺫﯧﻦﺀﺍﻣﻧﻮﺍﻗﻮﺍﺃﻧﻓﺴﮑﻢ
ﻮﺃﻫﻟﯦﮑﻢﻧﺍﺮﺍ ﻮﱠﻗﻮﺪﮬﺍﺍﻟﻨﺍﺲ ﻮﺍﻟﺣﺠﺍﺮﺓﻋﻠﻴﻬﺍﻣﻠﺍﺋﮝﺔﻏﻠﺍﻇ ﺷﺪﺍﺪﻻﻴﻌﺼﻮﻦﺍﷲﻣﺍﺍﻣﺮﻫﻢ ﻮﻴﻓﻌﻠﻮﻦﻣﺍﻴﯝﻣﺮﻮﻦ
Artinya : Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
Dari penjelasan ayat tersebut dapat dipahami bahwa setiap manusia mempunyai hakikatnya untuk menjadi seorang pemimpin, baik dalam dirinya sendiri maupun orang lain. Rasulullah SAW dalam sabdanya menyatakan bahwa pemimpin suatu kelompok merupakan pelayan pada kelompok tersebut. sehingga sebaga seorang pemimpin hendaklah dapat dan mampu melayani serta menolong orang lain untuk maju dengan ikhlas.
Suatu kenyataan kehidupan organisasional bahwa pemimpin suatu organisasi memainkan peranan yang amat penting, dan sangat menentukan dalam usaha pencapaian tujuan organisasi yang telah ditetapkan sebelumnya. seorang pemimpin baik individu maupun sebagai suatu kelompok tidak mungkin dapat bekerja dengan sendiri. pimpinan membutuhkan kelompok orang lain yang disebut bawahan yang digerakkan sedemikian rupa sehingga bawahan itu memberikan pengabdian dan sumbangsihnya kepada organisasi.
Menurut kamus bahasa Inggris kepemimpinan diambil dari kata lead yang berarti memimpin, sedangkan leader adalah seorang pemimpin dan leadership adalah kepemimpinan.
Ngalim Poerwanto mengutip beberapa defenisi kepemimpinan dari Prajudi Atmosudirdjo sebagai berikut :
1. Kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai suatu kepribadian seseorang yang mendatangkan keinginan pada kelompok orang-orang untuk mencontohkannya atau mengikutinya, atau yang memancarkan suatu pengaruh yang tertentu, suatu kekuatan atau wibawa, yang sedemikian rupa sehingga membuat kelompok orang mau melakuakan apa yang dikehendakinya.
2. Kepemimpinan adalah suatu seni (art), kesanggupan (ability) atau teknik (technique) untuk membuat sekelompok orang bawahan dalam organisasi formal atau para pengikut atau simpatisan dalam orgnisasi informal mengikuti atau mentaati segala apa yang dikehendakinya, membuat mereka begitu antusias atau bersemangat untuk mengikutinya atau bahkan rela berkorban untuknya.
3. Kepemimpinan dapat dipandang sebagai suatu bentuk persuasi suatu seni pembinaan kelompok orang-orang tertentu, biasanya melalui “human relation” dan motivasi yang tepat, sehingga mereka tanpa adanya rasa takut mau berkerja sama dan membanting tulang untuk memahami dan mencapai segala apa yang menjadi tujuan organisasi.
Hoy dan miskel mengutip beberapa defenisi dari beberapa sumber :
1. Kepemimpinan adalah kekuatan ( power ) yang didasarkan atas tabiat/watak seseorang yang memiliki kekuasaan lebih, basanya bersifat normatif.
2. Kepemimpinan adalah permulaan dari suatu strukturatau prosedur baru untuk mencapai tujuan-tujuan dan sasaran organisasi.
3. Kepemimpinan adalah proses mempengarui kegiatan-kegiatan suatu kelompok yang diorganisasi menuju kepada penentuan dan pencapaian tujuan.
Menurut Burhanuddin yang mengutip pendapat Good, Kepemimpinan adalah “ the ability and readiness to inspire, guide, direct, or manage other”. yang berarti kepemimpinan merupakan suatu kemampuan dan kesiapan seseorang untuk mempengaruhi, membimbing dan mengarahkan atau mengelola orang lain agar mereka mau berbuat sesuatu demi tercapainya tujuan bersama.
Menurut George.P.Terry, kepemimpinan adalah Kegiatan dalam mempengaruhi orang lain untuk bekerja keras dengan penuh kemauan untuk tujuan kelompok. sedangkan Dubin berpendapat bahwa, Kepemimpinan adalah Aktivitas para pemegang kekuasaan dan membuat keputusan.
Ada banyak defenisi tentang kepemimpinan. tetapi pada dasarnya kepemimpinan berarti mempengaruhi orang lain. sebagian besar perspektif leadership memandang pemimpin sebagai sumber pengaruh. Pemimpin dalam memimpin pada dasarnya mempengaruhi dan para pengikut mengikuti sebagai pihak yang dipengaruhi. dan pada dasarnya pula kepemimpinan mengacu pada suatu proses untuk menggerakkan sekelompok orang menuju ke suatu yang telah ditetapkan/ disepakati bersama dengan mendorong dan memotivasi untuk bertindak dengan cara yang tidak memaksa. dengan kemampuannya seorang pemimpin yang baik mampu menggerakkan orang-orang menuju tujuan jangka panjang dan benar-banar merupakan upaya memenuhi kepentingan mereka yang terbaik.
Pada dasarnya fenomena kepemimpinan adalah :
1. Suatu kekuatan yang mengalir secara otomatis dan mungkin tidak disadari dan dengan cara yang juga mungkin tidak diketahui dan dirasakan antara pemimpin dan pengikutnya, yang mmberikan dorongan kepada para pengikutnya supaya mampu mengerahkan tenaganya secara teratur menuju sasaran yang disepakati bersama. upaya yang dilakukan menuju sasaran dan berhasil pencapaiannya akan memberikan kepuasan bagi pemimpin dan pengikutnya.
2. Akan mewarnai atau diwarnai atau dipengaruhi oleh media, lingkungan, dan iklim organisasi. pada dasarnya kepemimpinan tidak berkerja dan berada pada ruangan yang hampa, tetapi ia berada dalam suasana yang diciptakan dan tercipta oleh berbagai unsur.
3. Pada hakikatnya bekerja menurut prinsip, alat dan metode yang pasti dan tetap.
Selain itu kepemimpinan juga merupakan suatu kemampuan untuk menjalankan pekerjaan melalui orang lain dengan mendapatkan kepercayaan dan kerja sama. hampir semua aspek pekerjaan dipengaruhi dan tergantung pada kepemimpinan.
Dari beberapa teori yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan adalah sekumpulan dari serangkaian kemampuan dan sifat-sifat kepribadian termasuk didalamnya kewibawaan, untuk dijadikan sebagai sarana dalam rangka meyakinkan yang dipimpinnya agar mau dan dapat melakukan tugas- tugas yang dibebankan kepadanya dengan rela, penuh semangat serta tidak merasa terpaksa. dan merupakan suatu kemampuan yang dimiliki oleh seseorang untuk mempengaruhi, membimbing, mengarahkan serta mengelola baik individu maupun kelompok dengan segala ilmu yang ada agar mereka mau berbuat sesuatu demi tercapainya suatu tujuan bersama.
2.1.2 Gaya Kepemimpinan
Menurut E. mulyasa gaya kepemimpinan adalah suatu pola seorang pemimpin yang khas pada saat mempengaruhi anak buahnya, apa yang dipilih dalam mempengaruhi anggota kelompok membentuk gaya kepemimpinannya. Setiap pemimpin mempunyai sikap dan prilaku tertentu dalam menjalankan fungsi kepemimpinannya. banyak para ahli membicarakan sikap, sikap diperoleh seorang bukan melalui orang tua atau warisan, melainkan lebih banyak ditentukan dan dipengaruhi oleh pengalaman, pendidikan, dan pergaulan. gaya kepemimpinan adalah cara yang dipergunakan pemimpin dalam mempengaruhi pengikutnya. gaya kepemimpinan merupakan norma prilaku yang digunakan seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain seperti yang ia lihat.
Gaya kepemimpinan berkaitan dengan cara seseorang pemimpin melakukan kegiatan dalam membimbing, menggerakkan, mempengaruhi dan mengerahkan para bawahannya kepada suatu tujuan tertentu.
Gaya kepemimpinan menyangkut pola atau konstelasi tingkah laku kepemimpinan yang mengkarakterisasi seorang pemimpin. hal itu terjadi karena setiap pemimpin merasa sangat enak dengan suatu gaya tertentu dan cenderung konsisten dalam penggunaannya. Gaya kepemimpinan merupakan suatu pola perilaku seorang pemimpin yang khas saat mempengaruhi bawahannya, apa yang dipilih oleh pemimpin untuk dikerjakan, cara pemimpin bertindak dalam mempengaruhi anggota kelompok membentuk gaya kepemimpinannya. Secara otomatis telah banyak gaya kepemimpinan, namun gaya mana yang terbaik tidak mudah untuk ditentukan. untuk memahami gaya kepemimpinan, sedikitnya dapat dilahat dari tiga pendekatan utama yaitu :
1). Pendekatan Sifat
Pendekatan sifat ini bertitik tolak dari pemikiran bahwa keberhasilan seorang pemimpin ditentukan oleh sifat-sifat, perangai atau ciri yang dimiliki oleh pemimpin sejak lahir. Sifat-sifat itu ada pada seseorang karena pembawaan atau keturunan,bukan karena dibuat atau dilatih. Ghizeli dan Stogdil mengemukakan adanya lima sifat yang perlu dimiliki seorang pemimpin, yaitu : kecerdasan, kemampuan mengawasi, inisiatif, ketenangan diri dan kepribadian. Sementara Thierauf mengemukakan 16 sifat kepemimpinan yaitu : kecerdasan, inisiatif, daya khayal, bersemangat, optimisme, individualisme, keberanian, keaslian, kesediaan menerima, kemampuan berkomunikasi, rasa perlakuan yang wajar terhadap sesama, kepribadian, keuletan, manusiawi, kemampuan mengawasi dan ketenangan diri.
Sifat-sifat yang terdapat dalam individu pemimpin yang tidak terpisahkan seperti intelegensi, dianggap bisa dialihkan dari satu situasi yang lain. karena tidak semua orang memiliki sifat yang sama. oleh karena itu pendekatan sifat tampaknya tidak mampu menjawab berbagai persoalan disekitar kepemimpinan. sebagai contoh, adakah kombinasi optimal dari sifat kepribadian dalam menentukan keberhasilan pemimpin ?. Apakah sifat-sifat kepribadian itu mampu mengindikasikan kepemimpinan yang potensial ?. Apakah karakteristik itu dapat dipelajari atau telah ada sejak seseorang lahir ?. Ketidakmampuan pendekatan ini dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut menyebapkan ada pendekatan lain.
2). Pendekatan Prilaku
Pendekatan perilaku berorientasi terhadap bawahan dan produksi. pemimpin yang berorientasi kepada bawahan, mereka merasa bahwa setiap karyawan itu penting, dan menerima karyawan sebagai pribadi. sementara pemimpin yang menekankan pada produksi, sangat memperhatikan produksi dan aspek-aspek tehnik kerja, bawahan dianggap sebagai alat untuk mencapai tujuan organisasi.
Selain itu dalam pendektan ini, pemimpin berhubungan dengan dua hal, yakni perhatian pada produksi disatu pihak dan perhatian pada orang lain dipihak lain. Perhatian pada produksi atau tugas adalah sikap pemimpin yang menekankan mutu keputusan, prosedur, mutu pelayanan staf, efisiensi kerja dan jumlah pengeluaran. Perhatian pada orang-orang adalah sikap pemimpin yang memperhatikan keterlibatan bawahan dalam rangka pencapaian tujuan. Dalam hal ini aspek-aspek yang perlu diperhatikan berkaitan dengan harga diri bawahan, tanggung jawab berdasarkan kepercayaan, suasana kerja yang menyenangkan dan hubungan yang harmonis.
3). Pendekatan Situasional
Pendekatan situasional hampir sama dengan pendekatan perilaku, keduanya menyoroti perilaku kpemimpinan dalam situasi tertentu. dalam hal ini kepemimpinan lebih merupakan fungsi situasi daripada sebagai kualitas pribadi, dan merupakan suatu kualitas yang timbul karena interaksi orang-orang dalam situasi tertentu.
Menurut pandangan perilaku, dengan mengkaji kepemimpinan dari beberapa variabel yang mempengaruhi perilaku akan memudahkan dalam menentukan gaya kepemimpinan yang paling cocok. pendekatan ini menitik beratkan pada berbagai gaya kepemimpinan yang paling efektif yang diterapkan dalam situasi tertentu.
Pendekatan situasional ini berhubungan dengan perilaku tugas, perilaku hubungan dan kematangan. perilaku tugas merupakan pemberian petunjuk oleh pemimpin terhadap bawahan meliputi penjelasan tertentu, apa yang harus dikerjakan, bilamana, dan bagaimana mengerjakannya, serta mengawasi mereka secara ketat. perilaku hubungan merupakan ajakan yang disampaikan oleh pemimpin melalui komunikasi dua arah yang meliputi mendengar dan melibatkan bawahan dalam pemecahan masalah. Adapun kematangan adalah kemampuan dan kemauan bawahan dalam mempertanggungjawabkan pelaksanaan tugas yang diembankan kepadanya.
Dari tiga faktor tersebut, tingkat kematangan bawahan merupakan faktor yang paling dominan. karena itu tekanan utama dari teori ini terletak pada perilaku pemimpin dalam hubungannya dengan bawahan.
Dari beberapa pendekatan tersebut dapat disimpulkan bahwa gaya kepemimpinan seseorang tercermin dari kemampuannya untuk tumbuh dalam jabatannya seperti terlihat dalam peningkatan kemampuan dan keterampilan yang dapat dikembangkan, meskipun tidak mungkin mencapai titik kemampuan yang terpendam dalam dirinya. Gaya kepemimpinan itu menuntut adanya kemahiran untuk membaca situasi seperti yang berkaitan dengan iklim kerja di dalam organisasi, yang sering menampakkan gejalanya dalam berbagai bentuk seperti absentisme yang tinggi, banyaknya pegawai yang minta berhenti, disiplin yang rendah, produktifitas yang tidak sesuai dengan yang diharapkan.
Perilaku seseorang tidak terbentuk begitu saja, melainkan melalui proses pertumbuhan dan perkembangan yang dipengaruhi oleh : faktor genetik, pendidikan, pengalaman dan faktor lingkungan. yang menjadi dasar utama dalam gaya kepemimpinan bukanlah pengangkatan atau penunjukanselaku kepala, akan tetapi penerimaan orang lain terhadap kepemimpinan yang bersangkutan berkat adanya kelebihan-kelebihan tertentu yang dimilikinya.
Dari pendapat diatas dapat dipahami bahwa gaya kepemimpinan adalah sikap dan prilaku kepala sekolah terhadap bawahan dalam mencapai tujuan organisasi sekolah. setiap pemimpin mempunyai berbagai macam gaya kepemimpinan yang diterapkan dalam organisasi. pemimpin mungkin memiliki gaya kepemimpinan demokratis atau otokratis. pemimpin yang baik akan mengkomunikasikan energinya, antusiasmenya, ambisinya, kesabarannya, kesukaannya dan arahannya demi mencapai tujuan yang diharapkan. Menurut Soewardji Lazarut, kepemimpinan ditinjau dari cara pendektannya di bagi menjadi 3 macam, yaitu :
A. Kepemimpinan Otokratis
Secara etimologi, otoriter berarti “berkuasa sendiri, sewenang-wenang”. sedangkan secara terminologis adalah “menempatkan kekuasaan ditangan satu orang atau sekelompok kecil orang yang diantara mereka tetap ada seorang yang berkuasa”.
Kepemimpinan yang bersifat otoriter muncul atas keyakinan pemimpin bahwa fungsi dan perannya dalam memerintah, mengatur dan mengawasi anggota kelompoknya. pemimpin yang demikian ini merasa bahwa statusnya berbeda dan lebih tinggi dari pada kelompoknya. oleh karena itu ia menempatkan dirinya diluar dan diatas kelompoknya atau “working on a group”
Gaya kepemimpinan otoriter ini merasa bahwa dialah yang memegang kekuasaan yang mutlak sehingga hanya dialah orang yang paling bertanggung jawab terhadap maju mundurnya suatu organisasi yang dipimpinnya. oleh karena itu pemimpin yang seperti ini sangat menuntut agar bawahan taat dan menjalankan terhadap apa yang diperintahkannya.
Menurut Kartini Kartono, ciri-ciri kepemimpinan ini adalah :
1. Dia memberikan perintah-perintah yang dipaksakan, dan harus dipatuhi.
2. Dia menentukan policies/kebijakan untuk semua pihak, tanpa berkonsultasi dengan para anggota.
3. Dia tidak pernah memberikan informasi mendetail tentang rencana-rencana yang akan datang, akan tetapi cuma memberitahukan pada setiap anggota kelompoknya langkah-langkah segera yang harus mereka lakukan.
4. Dia memberikan pujian atau kritik pribadi terhadap setiap anggota kelompoknya dengan inisiatif sendiri.
Dalam kepemimpinan yang otokratis, pemimpin bertindak sebagai diktator terhadap anggota kelompoknya. baginya pemimpin adalah menggerakkan dan memaksa seseorang. kekuasaan pemimpin yang otokrasi hanya dibatasi oleh undang-undang. penafsirannya sebagai pemimpin tidak lain adalah menunjukan dan memberi perintah. kewajiban bawahan hanyalah mengikuti dan menjalankannya, tidak boleh membantah ataupun mengajukan saran.
Pemimpin yang otokrasi tidak menghendaki rapat-rapat atau musyawarah. berkumpul atau rapat berarti untuk menyampaikan instruksi-instruksi. setiap perbedaan pendapat diantara anggota-anggota kelompok diartikan sebagai kepicikan, pembangkangan atau pelanggaran disiplin terhadap perintah atau instruksi yang telah ditetapkannya.
Dalam tindakan dan perbuatannya ia tidak dapat diganggu gugat, kekuasaan yang berlebihan ini dapat menimbulkan sikap menyerah tanpa kritik, sikap asal bapak senang atau sikap sumuhan dawuh terhadap pemimpin dan kecenderungan untuk mengabaikan perintah dan tugas jika tidak ada pengawasan langsung. dominasi yang berlebihan ini akan menimbulkan sifat apatis, sifat agresif pada anggota kelompok terhadap pemimpinnya.
Pemimpin yang bertipe demikian dipandang sebagai orang yang memberikan perintah dan mengharapkan pelaksanaannya secara dogmatis dan selalu positif. dengan segala kemampuannya, ia berusaha menakut-nakuti bawahannya dengan jalan memberikan hukuman tertentu bagi yang berbuat negatif, dan hadiah untuk seorang bawahan yang bekerja dengan baik.
Beberapa pemimpin “otoriter” dinilai sebagai “benevolent autockrats” (pseudo democratic). meskipun mereka nampaknya mendengarkan saran-saran / pendapat-pendapat para anggota kelompok sebelum keputusan dicapai, toh pada akhirnya keputusan yang diambil adalah atas dasar pendapat dirinya sendiri. Mereka barangkali mempunyai keinginan untuk mendengarkan dan mmpertimbangkan ide-ide bawahan, namun manakala suatu keputusan dibuat, mungkin lebih otoriter dari pada sebelumnya.
Seorang pemimpin yang otoriter bersifat ingin berkuasa, sehingga suasana di sekolah selalu tegang. Pemimpin sama sekali tidak memberi kebebasan kepada kelompok untuk turut ambil bagian dalam memutuskan suatu persoalan. inisaitif dan daya fikir anggota sangat dibatasi. Sehingga tidak diberi kesempatan untuk mengeluarkan pendapat mereka. Kepala sekolah bebas membuat peraturan sendiri dan peraturan tersebut harus ditaati dan diikuti oleh anggota.
Salah satu contoh, kepala sekolah yang kurang mau mendengarkan atau mengindahkan pendapat-pendapat, ide-ide, dan saran-saran yag kreatif dari guru-guru atau staf sekolah yang dipimpinnya. Dalam rapat-rapat sekolah maka kepala sekolah tersebut hanya memajukan dan melaksanakan ide-ide dan keinginannya sendiri saja untuk diterima dan dijadikan rapat.
Akibat negatif yang dapat ditimbulkan kepemimpinan ototiter antara lain :
1. Guru menjadi manusia penurut yang tidak berani mengambil keputusan sehingga sangat tergantung pada pimpinan atau kepala sekolah.
2. Kesediaan guru, staf dan murid bekerja keras bersifat terpaksa dan berpura-pura karena didasari rasa tertekan, takut dan ketegangan karena terus menerus dibayangi dengan sanksi dan hukuman.
3. Sekolah menjadi bersifat stastis.
Kepemimpinan otoriter menimbulkan suasana kaku, tegang, mencekam, menakutkan sehingga dapat berakibat lebih lanjut timbulnya ketidakpuasan. kepemimpinan otoriter juga memberikan keuntungan antara lain : disipilin dapat dikontrol dengan baik, semua pekerjaan dapat berlangsung secara tertib dan teratur, cepat serta tegas dalam membuat keputusan dan tindakan sehingga untuk sementara produktifitas dapat naik.
Adapun ciri seorang pemimpin yang otokratis adalah :
1. Menganggap oraganisasi yang dipimpinnya sebagai milik pribadi.
2. Mengidentifikasikan tujuan pribadi dengan tujuan organisasi.
3. Menganggap bawahan sebagai alat semata-mata.
4. Tidak mau menerima pendapat, saran, dan kritik.
5. Terlalu bergantung pada kekuasaan formalnya.
6. Cara menggerakkan bawahan denang pendekatan paksaan dan bersifat mencari kesalahan/menghukum.
B. Kepemimpinan Laissez faire
Pemimpin yang Laissez faire menganggap bahwa guru-guru atau anggota kelompoknya adalah orang-orang yang sudah dewasa dan sudah matang. jadi, mereka dapat mengatur dan mengarahkan dirinya sendiri.
Pemimpin yang Laissez Faire ini sebenarnya memimpin tetapi tidak memberikan kepemimpinan karena pemimpin ini membiarkan guru-guru bekerja sesuai dengan kemauan guru tersebut tanpa adanya pengawasannya. hal ini menyebapkan guru-guru menjadi tidak disiplin, serta tidak bertanggung jawab terhadap tugas dan kewajibannya. hal ini diperkuat dengan pendapat Soekarto Indrafachrudi, yang mengatakan bahwa pemimpin yang bergaya seperti ini menafsirkan demokrasi dalam arti yang keliru. demokrasi seolah-olah diartikan sbagai kebebasan bagi setiap anggota untuk mengemukakan dan mempertahankan pendapat serta kebijaksanaannya masing-masing. akan tetapi demokrasi sebenarnya disini bukanlah kebebasan mutlak, melainkan kebebasan yang dibatasi oleh peraturan-peraturan.
Adapun Kelemahan-kelemahan dalam penerapan kepemimpinan ini, adalah :
1. Anggota kelompok tidak berkembang karena tidak mendapat bimbingan dan pengaran yang cukup.
2. Anggota kelompok tidak merasakan adanya kpemimpinan dalam kelompoknya.
3. Suasana tidak tertib dan teratur.
4. Setiap orang melakukan tugasnya berdasrkan seleranya masing-masing.
5. Apabila kelompok terdiri dari orang-orang yang lemah maka suasana menjadi semakin buruk.
6. Apabila muncul masalah maka tidak pernah terpecahkan sampai tuntas dan memuaskan. Banyak program atau pekerjaan yang tertunda atau terbengkalai.
Dalam tipe kepemimpinan ini sebenarnya pimpina



n tidak memberikan leadershif. tipe ini diartikan sebagai membiarkan orang-orang berbuat sekehendaknya. pimpinan yang seperti ini sama sekali tidak memberikan kontrol dan koreksi terhadap pekerjaan anggota. pembagian tugas dan kerja sama diserahkan kepada anggota, tanpa pertunjuk atau saran dari pimpinan.
Dengan demikian mudah terjadi kekacauan. tingkat keberhasilan organisasi atau lembaga yang dipimpin dengan gaya seperti ini semata-mata disebapkan karena kesadaran dan dedikasi dari beberapa anggota kelompok bukan karena pengaruh pimpinan. disamping dalam tipe kepemimpinan ini, biasanya struktur organisasinya tidak jelas dan kabur. Segala kegitan dilakukan tanpa rencana yang terarah dan tanpa pengawasan dari pimpinan.
Pimpinan yang demikian mempunyai ketergantungan yang besar pada anggota kelompok untuk menetapkan tujuan-tujuan dan alat-alat/cara mencapainya. Pimpinan pada gaya ini menganggap bahwa peranan mereka sebenarnya sebagai orang yang berusaha memberikan kemudahan kerja para pengikut, umpama dengan jalan menyampaikan informasi kepada orang-orang yang dipimpinnya, serta sebagai penghubung dengan lingkungan yang ada diluar kelompok.
Dari uraian tersebut dapat diketahui ciri-ciri kepemimpinan laissez-faire sebagai brikut :
1) Tidak yakin pada kemampuan sendiri.
2) Tidak berani mentapkan tujuan untuk kelompok.
3) Tidak berani menanggung resiko.
4) Membatasi komunikasi dan hubungan kelompok.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa inti dari kepemimpinan lissez-faire bukanlah seorang pemimpin dalm pengertian sebenarnya. kendatipun demikian, kepemimpinan laissez-faire juga memberikan keuntungan antara lain para anggota (guru) atau bawahan akan dapat mengembangkan kemampuan dirinya.
C. Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan gaya demokratis adalah kemampuan mempengaruhi orang lain agar bersedia bekerja sama untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan dengan cara berbagai kegiatan yang akan dilakukan ditentukan bersama antara pimpinan dan bawahan. pada kepemimpinan demokratis, pemimpin berkeyakinan bahwa perannya adalah mendorong, membimbing, menghimpun semua kekuatan kelompok secara maksimal dan bekerja sama dengan kelompok dalam rangka mencapai tujuan bersama. ia merasa harus menggerakkan kelompok kearah pencapaian tujuan.
Ngalim purwanto berpendapat dan pendapatnya ini juga menguatkan pendapat diatas tentang pemimpin demokratis ini, mempunyai kepercayaan terhadap dirinya sediri dan menaruh kepercayaan pula pada anggota-anggotanya bahwa mereka mempunyai kesanggupan bekerja dengan baik dan bertanggung jawab. Pemimpin yang demokratis selalu berusaha memupuk rasa kekeluargaan dan persatuan. ia senantiasa berusaha membangun semangat anggota-anggotanya dalam menjalankan kerjanya. disamping itu, ia juga memberikan kesempatan bagi timbulnya kecakapan memimpin pada anggota kelompoknya dengan jalan mendelegasikan sebagian kekuasaan dan tanggung jawabnya.
Pemimpin yang bertipe demokratis menafsirkan kepemimpinan bukan sekedar diktator, melainkan sebagai pemimpin ditengah-tengah anggota kelompoknya. pemimpin demokratis sering mengajak pengikutnya dalam mengambil keputusan, consensus, dan pemberdayaan. hubungan dengan anggota kelompok bukan sebagai majikan terhadap buruhnya melainkan sebagai saudara tua diantara saudara-saudara teman sekerjanya. pemimpin yang demokratis selalu berusaha menstimulasi anggotanya agar bekerja secara kooperatif untuk mencapai tujuan bersama. dalam tindakan dan usaha-usahanya, ia selalu berpangkal pada kepentingan dan kebutuhan kelompok dan mempertimbangkan kesanggupan dan kemampuan kelompok. dalam melaksanakan tugas ia mau menerima dan mengaharapkan saran dan kritik dari kelompok. Juga kritik-kritik yang membangun dari para anggota yang diterimanya sebagai umpan balik dan dijadikan bahan pertimbangan dalam tindakan-tindakan berikutnya.
Pemimpin gaya demikian mngadakan konsultasi dengan para bawahannya mengenai tindakan-tindakan dan keputusan-keputusan yang diusukan / dikehendaki oleh pemimpin, serta berusaha memberikan dorongan untuk turut serta aktif melaksanakan semua keputusan dan kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan itu. tipe kepemimpinan ini dipandang berada pada sebuah bentuk spektrum yang diurutkan mulai dari orang yang bertindak atas persetujuan dengan bawahan sampai kepada yang membuat keputusan-keputusan namun sudah berkonsultasi sebelumnya dengan para anggota kelompoknya.
Dalam tipe kepemimpinan ini seorang pemimpin selalu mengikutsertakan seluruh anggaota kelompoknya dalam mengambil keputusan, kepala sekolah yang demikian akan menghargai pendapat atau kreasi anggotanya / guru-guru yang menjadi bawahannya.
Kepala Sekolah sebagai seorang pemimpin lebih mementingkan kepentingan bersama daripada kepentingan sendiri, sehingga terciptalah hubungan dan kerja sama yang baik dan harmonis, saling bantu membantu didalam melaksanakan tugas sehari-hari sudah barang tentu dengan terciptanya suasana kerja yang sehat ini, baik guru, tata usaha dan kepala sekolah bekerja dengan kegembiraan dan kesenangan hati untuk memajukan rencana pendidikan disekolah.
Jika disekolah dilaksanakan kepemimpinan yang bersifat demokratis, maka ini merupakan hasil interaksi kelompok, dimana setiap orang dipandang memiliki potensi dapat memberikan sumbangan prosedur kooperatif, yang dimanfaatkan secara luas. pemimpin-pemimpin yang mengusahakan perbaikan dalam pengajaran akan selalu mencari jalan untuk mengembangkan potensi kepemimpinan yang terdapat pada orang lain.
Dalam kepemimpinan demokratis, kepala sekolah harus sadar bahwa kurikulum yang ada perlu difahami benar-benar oleh guru-guru, sehingga mereka dapat menjabarkanya secara luas dan mengembangkannya secara kreatif. dalam hal ini kepala sekolah bersama sama dengan guru memahami masalah proses belajar mengajar yang efektif, menyusun program-program kurikulum dan kegiatan-kegiatan tambahan serta program tahunan.
Selain itu kepala sekolah ikut menentukan tinggi rendahnya moral guru. untuk itu kepala sekolah harus dapat menciptakan situasi belajar dan mengajar yang baik untuk mempertinggi moral guru-guru, sehingga mereka dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan dengan penuh rasa tanggung jawab. karena moral atau tata cara akhlak/sikap yang tercermin lewat tingkah laku guru-guru tersebut, sangatlah penting artinya dan juga menentukan jalannya proses belajar mengajar.
Pemimpin yang demokratis menyadari bahwa kekuatan kelompok adalah keseluruhan dari kekuatan-kekuatan anggotanya. Kalau ia ingin memperkuat kelompoknya maka ia akan memprkuat setiap anggota kelompok. Dengan kata lain apabila ia ingin meningkatkan kualitas kelompoknya, maka ia akan meningkatkan kualitas kelompoknya, maka ia akan meningkatkan kualitas setiap anggota kelompoknya.
Adapun ciri seorang pemimpin yang demokratis adalah sebagai berikut :
1) Senang menerima saran, pendapat dan kritikan dari bawahan
2) Mengutamakan kerja sama dalam mencapai tujuan
3) Memberikan kebebasan kepada bawahan
4) selalu mengembangkan kapasitas diri pribadinya sebagai pemimpin
5) Membuat kputusan bersama dengan anggota kelompok
6) Selalu menjelaskan sebab-sebab keputusan yang dibuat sndiri kepada kelompok
7) Feed back dijadikan sebagai salah satu masukan yang berharga.
2.2 Efektivitas Mengajar
2.2.1 Defenisi Efektivitas Mengajar
Sebelum menguraikan defenisi efektivitas mengajar, penulis akan menguraikan terlebih dahulu mengenai defenisi efektivitas, mengajar dan efektivitas mengajar. Efektivitas sering diartikan sebagai sebuah keberhasilan didalam mencapai sesuatu. dalam memaknai efektivitas, setiap orang memberi arti yang berbeda sesuai sudut pandang dan kepentingan masing-masing. Hal tersebut diakui oleh Chung dan Maginson(1981), “Efectivenes means different to different people”,
Menurut Siagian, “ efektivitas adalah pemanfaatan sumberdaya yang secara sadar ditetapakan sebelumnya untuk menghasilkan sejumlah barang atau jasa dengan mutu tertentu tepat pada waktunya.” efektivitas berarti suatu kesanggupan untuk mewujudkan suatu tujuan.
Menurut Roulette, Efektivitas adalah dengan melakukan hal yang benar pada saat yang tepat untuk jangka waktu yang panjang, baik pada organisasi tersebut dan pelanggan. sedangkan Hodge melihat bahwa, Efektivitas sebagai ukuran suksesnya organisasi didefinisikan sebagai kemampuan organisasi untuk mencapai segala keperluannya. Ini berarti bahwa organisasi mampu menyusun dan mengorganisasikan sumber daya untuk mencapai tujuan .
Dalam kamus bahasa indonesia (1990:219) dikemukakan bahwa efektif berarti dan efeknya (akibat, pengaruh, kesan ), manjur, mujarab, dapat membawa hasil. jadi efektivitas adalah adanya kesesuaian antara orang yang melaksanakan tugas dengan sasaran yang dituju.
Dari berbagai analisis teori tentang efektivitas, maka yang diwujudkan dengan efektivitas dalam penelitian ini adalah kemampuan/ kesanggupan dalam bertindak melakukan kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan sebelumnya untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.
Dalam penganjaran yang efektif, guru dapat mengajar bagaimana seharusnya siswa belajar dan menginternalisasikan nilai-nilai agar siswa mau belajar terus-menerus sepajang hayatnya. kesadaran belajar dalam sepanjang hidupnya demikian sangat diperlukan. mengingat perkembangan dan tuntutan dunia yang berkembang pesat seperti sekarang ini. Dalam efektivitas terdiri atas 3 kriteria waktu yang meliputi :
1. Jangka pendek untuk menunjukan hasil kegiatan dalam kurun waktu satu tahun, dengan kriteria kepuasan, efisiansi dan produksi.
2. Jangka menengah, dalam waktu 5 tahun dengan kriteria perkembangan serta kemampuan beradaptasi dengan lingkungan dan organisasi.
3. Jangka panjang, waktu ini digunakan untuk menilai waktu yang akan datang, menggunakan kriteria kemampuan untuk mempertahankan kelangsungan hidup dan kemampuan membuat perencanaan strategis bagi kegiatan dimasa depan.
Sedangkan pengertian mengajar adalah :
1. Mengajar adalah menyuruh anak menghafal.
2. mengajar anak adalah menyampaikan pengetahuan.
3. mengajar adalah menggunakansatu metode mengajar tertentu.
Pengertian mengajar dalam arti luas yaitu :
1. Mengajar adalah menanamkan pengetahuan pada anak. Pada defenisi ini tujuan mengajar ialah penguasaan pengetahuan oleh anak. anak dianggap pasif. Pengajar bersifat teacher centered, karena gurulah yang memegang peranan utama. sering ilmu pengethuan kebanyakan diambil dari bukunpelajaran yang tidak dihubungkan dengan realitas dalam kehidupan sehari-hari. pengajaran serupa ini disebut intelektualitas sebab menekankan dari segi pengetahuan.
2. Mengajar adalah menyampaikan kebudayaan pada anak. menyampaikan kebudayaan pada anak berarti mengenalkan kebudayaan bangsanya dan kebudayaan dunia. bukan saja hanya mengenalkan akan tetapi adapula yang mengharafkan agar anak-anak tidak hanya mengusai kebudayaan yang ada, tetapi agar mereka juga turut membantu memperkaya kebudayaan itu dengan menciptakan kbudayaan baru menurut zaman yang senantiasa berubah ini.
3. Mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar mengajar. Dalam hal ini mengajar adalah suatu usaha dari pihak guru, yakni mengatur lingkungan, sehingga terbentuklah suatu suasana yang sebaik-baiknya bagi anak untuk belajar, yang belajar adalah anak itu sendiri berkat kegiatannya sendiri, guru hanya dapat membimbing anak. oleh karena itu dimanfaatkanya segala faktor dalam lingkungan, termasuk dirinya sendiri, buku-buku, alat peraga lingkungan, sumber lain dan sebagainya. dalam hal ini pengajaran lebih bersifat pupil centered, guru berperan sebagai “ manager of learning”.
Dalam kegiatan belajar mengajar, terdapat tahapan sebelum memulai tugas pengajaran. adapun tahapan tersebut terdiri dari tiga tahap yaitu :
1. Tahapan persiapan dan perencanaan.
Moh. Uzer Usman mengatakan bahwa komponen yang penting dalam penyusunan program pengajaran adalah sebagai berikut ;
a). penguasaan materi pelajaran.
b). Analisis materi pelajaran
c). Program satuan pelajaran
d). Rencana pengajaran.
Guru diharafkan mampu membuat persiapan pengajaran secara teratur dan tertulis disamping penguasaan bahan yang diperlukan, dan persiapan yang telah dibuat sebaiknya dikaji kembali sebelum dilaksanakan didepan kelas, jika ada hal-hal yang perlu direvisi atau disempurnakan.
2. Tahapan pelaksanaan
Tahapan pelaksanaan ini berlangsung pada saat guru memimpin kegiatan belajar mengajar. pada tahap ini guru harus senantiasa mengupayakan dan menjaga agar siswa terlibat secara aktif dalam kegiatan belajar mengajar.
Agar kegiatan proses belajar mengajar berjalan dengan baik maka guru harus menguasai bahan pengajaran yang akan dibarikan, memilih metod yang tepat, menggunakan sarana dan fasilitas pendidikan yang menunjang, mengetahui sistematika bahan yang diberikan serta mengatur tugas siswa.
3. Tahapan penilaian atau evaluasi
Pada tahap ini guru melakukan penilaian terhadap kegiatan belajar mengajar yang baru saja berlangsung. Penilaian tersebut ada yang berkaitan dengan materi dan juga proses bagaimana murid memperoleh materi tersebut. Untuk mengetahui apakah meteri yang diberikan dipahami atau tidak, dapat dilakukan dengan jalan membuat rangkuman inti pelajaran yang dilakukan murid. Sedangkan untuk menilai terhadap proses bagaimana murid memahami bahan pelajaran yang diberikan, dapat dilakukan dengan jalan memberikan soal-soal yang berkaitan dengan pelajaran yang telah berlangsung.
Berdasarkan defenisi mengajar diatas, dapat disimpulkan bahwa mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses mengatur, mengorganisasikan lingkungan yang ada disekitarnya sehingga siswa dapat menumbuhkan dan mendorong siswa melakukan proses beljar mengajar. serta adanya proses memberikan bimbingan atau bantuan kepada siswa dalam melakukan proses belajar mengajar.
Sedangkan defenisi dari efektivitas mengajar adalah suatu aktivitas guru didalam proses pengajaran yang mencapai tujuan pembelajaran. Efektivitas mengajar dapat dilihat secara aktif, baik fisik, mental maupun sosial dalam proses pembelajaran, disamping menunjukan kegairan belajar yang tinggi, semangat belajar yang besar dan rasa percaya diri sendiri.selain itu efektivitas mengajar sama juga dikatakan proeses pengajaran dan pembelajaran yang berhasil dapat dilihat dari cara guru menyampaikan proses pengajaran dengan berbagai strategi pengajaran kepada siswa dengan melihat dari kualitas peserta didik.Dengan demikian efektivitas mngajar adalah tolak ukur sampai sejauh mana keberhasilan antara hasil yang dicapai siswa dalam kaitannya dengan tahapan pelaksanaan pengajaran.
2.2.2 Indikator Efektivitas Mengajar
Indikator efektivitas mengajar dimaksudkan sebagai alat untuk mengukur efektivitas mengajar guru disekolah. kriteria yang di gunakan untuk menggambarkan efektivitas mengajar biasanya dapat dilihat dari keberhasilan akademik yang diperoleh guru dan kompetensi guru. Menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam buku “strategi belajar mengajar” indikator efektivitas mengajar sebagai berikut :
A. Prilaku yang digariskan dalam tujuan pengajaran
Sebelum melaksanakan pengajaran guru juga diwajibkan merumuskan tujuan pengajaran. perumusan tujuan itu bertahap dan berjenjang mulai dari yang sangat operasional dan konkret, yakni tujuan instruksional umum, tujuan instruksional khusus, tujuan kurikuler, tujuan nasional sampai kepada tujuan yang bersifat universal. Oemar Hamalik mengemukakan bahwa “Dalam pengajaran perumusan tujuan adalah yang utama dalam setiap proses pengajaran. Perumusan ini senantiasa diarahkan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Untuk itu, proses pengajaran harus direncanakan. Ketercapaian tujuan dapat dicek atau di kontrol sejauh mana tujuan itu telah dicapai.”
Perumusan tujuan pengajaran dimaksudkan agar siswa mengalami perubahan tingkah laku yang diiginkan sebagai sasaran dari kegiatan belajar mengajar. sasaran yang dituju harus jelas dan terarah. oleh karena itu, tujuan pengarahan yang dirumuskan harus jelas dan konkret, sehingga mudah dipahami oleh anak didik. bila tidak, maka kegiatan belajar mengajar tidak mempunyai arah dan tujuan yang pasti. akibat selanjutnya perubahan perubahan yang diharafkan terjadi pada anak didik pun sukar diketahui, karena penyimpangan-penyimpangan dari kegiatan belajar mengajar. karena itu rumusan tujuan pengajaran dalam belajar mengajar mutlak dilakukan oleh guru sebelum melakukan tugasnya di sekolah.
Dalam proses belajar mengajar guru menilai siswa tidak hanya melalui kemampuan intelegensi yang dimilikinya akan tetapi perubahan prilaku pun ikut menentukan. perubahan ini berkaitan dengan prilaku yang digariskan dalam tujuan pembelajaran khusus yang telah dicapai siswa baik individu maupun kelompok. Perubahan perilaku ini merupakan wujud dari hasil belajar yang dicapai siswa dengan mengikuti pedoman tujuan pembelajaran. Perubahan perilaku dapat dilihat dari 3 aspek yaitu : (1). Kognitif, (2). Afektif, (3). Psikomotorik.
Ranah Kognitif. Aspek kognitif ini dilakukan secara menyeluruh dari segi pemahaman terhadap materi atau bahan pelajaran yang diberikan. Aspek kognitif terdiri dari penilaian pengetahuan tentang:
1) Pengetahuan/hafalan/ingatan (knowledge). Kemampuan seseorang untuk mengingatkembali materi yang telah diajarkan tanpa mengharapkan kemampuan untuk menggunakannya.
2) Pemahaman. Kemampuan seseorang untuk mengerti atau memahami sesuatu setelah sesuatu itu diketahui dan diingat.
3) Penerapan/aplikasi. Kesanggupan seseorang untuk menerapkan atau menggunakan ide-ide umum, tata cara ataupun metode-metode, prinsip-prinsip, rumus-rumus, teori-teori dalam situasi yang baru dan kongkret.
4) Analisis. Kemampuan seseorang untuk merinci atau menguraikan suatu bahan atau keadaan menurut bagian yang lebih kecil dan mampu memahami hubungan diantara bagian-bagian atau faktor yang satu dengan yang lainnya.
5) Sintesis. Kemampuan berfikir yang merupakan kebalikan dari proses berfikir analisis. Kemampuan seseorang yang memadukan bagian secara logis, sehingga menjelma menjadi suatu pola yang terstruktur atau berbentuk pola baru.
6) Penilaian/penghargaan/evaluasi. Merupakan jenjang berfikir yang paling tinggi dalam aspek kignitif. Kemampuan seseorang untuk membuat pertimbangan terhadap suatu situasi, nilai atau ide.
Ranah Afektif. Ukuran aspek afektif berhubungan dengan pandangan siswa yang melibatkan ekspresi, perasaan atau pendapat pribadi siswa terhadap hal yang relatif sederhana tapi bukan fakta. Aspek afektif ini berkaitan dengan sikap atau nilai siswa yang telah mendalam di sanubarinya, dan guru meminta siswa untuk mempertahankan pendapatnya. Sehubungan dengan tujuan penilaiannya, maka yang menjadi sasaran penilaian kawasan afektif adalah perilaku anak didik bukanpengetahuannya.
Ranah Psikomotorik. Ranah psikomotorik adalah ranah yang berkaitan dengan ketrampilan atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Hasil belajar kognitif dan afektif akan menjadi hasil belajar psikomotorik apabila peserta didik telah menunjukkan perilaku atau perbuatan tertentu sesuai dengan makna yang terkandung dalam ranah kognitif dan afektif.
B. Daya seraf siswa terhadap bahan pelajaran
Daya serap terhadap bahan pelajaran biasanya terlihat setelah guru melaksanakan pengajaran. Penilaian yang dilakukan terhadap siswa dapat dilaksanakan ketika pelajaran berlangsung maupun sebelum pelajaran berlangsung. biasanya daya serap terhadap bahan pelajaran ini dilaksanakan dengan pemberian tes baik tertulis maupun tes lisan. daya serap terhadap pelajaran yang diajarkan berfungsi untuk mengetahui tingkat kemapuan siswa mencapai prestasi tinggi baik secara individual maupun kelompok.
Dari kedua indikator efektivitas mengajar yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa kedua indikator tersebut sangatlah berkaitan untuk mencapai tingkat keberhasilan guru dalam mengajar. namun demikian, indikator yang biasa digunakan sebagai tolak ukur adalah daya serap siswa terhadap materi.
2.2.3 Tolok ukur Efektivitas mengajar
Tolok ukur efektivitas mengajar dimaksudkan sebagai ukuran atau patokan dalam menentukan tingkat keberhasilan suatu pengajaran. dari indikator yang sudah diuraikan, indikator yang digunakan sebagai tolok ukur efektivitas mengajar menurut Syaiful Bahri Djamarah dalam buku “Strategi Belajar Mengajar” tolok ukur efektifitas mengajar dapat dilihat melalui daya seraf siswa terhadap materi.
Daya serap siswa terhadap materi yang telah diajarkan dapat dilihat melihat melalui perolehan angka. penilaian terhadap kemampuan siswa idealnya menggunakan pengukuran intelegensia atau potensi yang dimilikinya. namun mengingat sulitnya alat ukur tersebut diperoleh guru, maka guru dapat melakukan penilaian ini dengan mempelajari dan menganalisa kemajuan-kemajuan belajar yang ditunjukannya, misalnya analisis terhadap hasil belajar, hasil tes seleksi masuk, nilai STTB, nilai rapor dan hasil ulangan harian. melalui analisis ini setidaknya guru dapat membuat kategori kemampuan siswa dalam tiga kategori yakni : tinggi, sedang, kurang. analisis kemampuan ini sangat bermanfaat bagi guru dalam menentukan strategi pengajaran yang sesuai dengan kemampuan siswa. pendekatan pengajaran berdasarkan tiga kategori tersebut tentu harus berbeda agar diperoleh hasil belajar yang optimal. demikian pula sikap guru dalam menghadapi siswa sesuai dengan potensinya banyak memberikan pengaruh terhadap kemajuan belajar siswa.
Daya serap siswa terhadap materi ini dapat juga ditinjau melalui sudut proses (by process) pengajaran dan dari sudut hasil yang dicapainya. dari sudut proses pengajaran, kriteria ini menekankan pada pengajaran sebagai suatu proses interaksi antara guru dengan siswa secara sistematis. proses pengajaran merupakan interaksi dinamis sehingga siswa sebagai subyek yang belajar mampu mengembangkan potensinya melalui belajar sendiri dan tujuan yang telah ditetapkan tercapai secara efektif. selain itu guru juga harus mengadakan evaluasi terhadap proses pengajaran yang telah dilakukan. evaluasi terhadap proses pengajaran dilakukan sebagai bagian integral dari pengajaran itu sendiri. artinya, evaluasi proses bertujuan menilai keefektifan dan efisiensi kegiatan pengajaran sebagai bahan untuk perbaikan dan penyempurnaan program dan pelaksanaannya.
Sedangkan dari sudut hasil yang dicapainya (by product). kriteria dari segi hasil atau produk menekankan kepada tingkat pemahaman dan penguasaan siswa terhadap materi yang telah diajarkan baik secara individual maupun kelompok. tingkat pemahaman dan penguasaan materi ini dapat ditinjau dari segi kualitas dan kuantitas.
Demikian tolok ukur yang dapat digunakan sebagai acuan dalam menentukan tingkat keberhasilan proses belajar mengajar. namun pada umumnya yang dijadikan tolok ukur keberhasilan dari keduanya ialah daya serap siswa terhadap pelajaran. Biasanya guru hanya menjadikan tolok ukur efektivitas mengajar melalui kemampuan intelegensi siswa dengan tingkat keberhasilan : istimewa/maksimal, baik sekali/optimal, baik/minimal dan kurang. akan tetapi guru juga tidak mengesampingkan aspek lain, karena dalam kurikulum yang berlaku saat ini untuk mengetahui sampai sejauhmana tingkat keberhasilan belajar mengajar perlu ditetapkan aspek yang diukur (kognitif, afektif, psikomotorik) serta mengunakan berbagai tehnik penilaian.
2.2.4 Faktor yang Mempengaruhi Efektivitas
Setiap guru memiliki pandangan masing-masing dalam melihat efektivitas proses belajar mengajar. namun untuk menyamakan persepsi sebaiknya guru harus berpedoman pada kurikulum yang berlaku saat ini. keberhasilan adalah buah dari efektivitas belajar mengajar, akan tetapi terkadang banyak hambatan dalam mencapai kebarhasilan yang dicita-citakan. begitu juga sebaliknya, jika keberhasilan tersebut menjadi kenyataan, tentu banyak faktor yang menjadi pendukung keberhasilan tersebut. berbagai faktor tersebut meliputi :
A. Tujuan
Tujuan adalah pedoman sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan belajar mengajar. kepastian dalam proses belajar mengajar berpangkal tolak dari jelas tidaknya perumusan tujuan pengajaran. Tercapainya tujuan (efektivitas) sama halnya dengan keberhasilan pengajaran. sedikit banyaknya perumusan tujuan akan mempngaruhi kegiatan pengajaran yang diberikan oleh guru. dan secara langsung guru mempengaruhi kegiatan belajar anak anak didik. guru dengan sengaja menciptakan lingkungan belajar guna mencapai tujuan. jika kegiatan belajar anak didik dan kegiatan mengajar guru bertentangan, dengan sendirinya tujuan pengajaran itu gagal untuk dicapai. karena sebagai pedoman dan sekaligus sebagai sasaran yang akan dicapai dalam setiap kali kegiatan belajar mengajar, maka guru selalu diwajibkan merumuskan tujuan pmbelajaran.Tujuan pembelajaran khusus (TPK) ini harus dirumuskan secara operaional dengan memenuhi syarat-syarat tertentu, yaitu:
1) Secara spesifik menyatakan prilaku yang akan dicapai.
2) Membatasi dalam keadaan mana perubahan tingkah laku diharafkan dapat terjadi.
3) Mecara spesifik menyatakan kriteria perubahan prilaku dalam menggambarkan standar minimal prilaku yang dapat diterima sebagai hasil yang dicapai.
Perumusan TPK yang bermacam-macam akan menghasilkan belajar atau perubahan prilaku anak yang bermacam macam pula. hal ini keberhasilan proses belajar mengajar bervarisi juga. Prilaku yang mana yang hendak dihasilkan, menghendaki perumusan TPK yang sesuai dengan perilaku yang hendak dihasilkan. sebagai contohnya bila prilaku guru yang hendak dicapai adalah agar anak dapat membaca maka perumusan TPK nya harus mendukung tercapainya keterampilan membaca yang diinginkan itu. bila prilaku yang hendak dicapai guru adalah keterampilan menulis, maka perumusan TPK nya harus mendukung tercapainya keterampilan menulis yang diinginkan. Baik keterampilan membaca dan menulis adalah prilaku yang hendak dihasilkan dari kegiatan belajar mngajar. bila kedua keterampilan tersebut di kuasai oleh anak, maka guru dikatakan berhasil dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. tentu saja kegiatan itu diketahui setelah dilakukan tes formatif diakhir pengajaran.
B. Guru
Guru adalah tenaga pendidik yang memberikan ilmu pengetahuan kepada anak didik disekolah. Guru adalah orang yang berpengalaman dalam bidang profesinya. dengan keilmuan yang dimilikinya, ia dapat menjadikan anak didik menjadi orang yang cerdas. setiap guru mempunyai kepribadian masing-masing sesuai dengan latar belakang kehidupan sebelum mereka menjadi guru. kepribadian guru diakui sebagai aspek yang tidak bisa dikesampingkan dari kerangka efektivitas belajar mengajar untuk mengantarkan anak didik menjadi orang yang berilmu pengetahuan dan berkepribadian. Dari kepribadian itulah dapat mempengaruhi pola kepemimpinan yang guru perlihatkan ketika melaksanakan tugas mengajar dikelas.
Latar belakang pendidikan dan pengalaman adalah dua aspek yang mempengaruhi komptensi seorang guru dibidang pendidikan dan pengajaran. guru yang mempunyai latar belakang pendidikan keguruan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan lingkungan sekolah. karena ia telah dibekali dengan seprangkat teori sebagai pendukung kepribadiannya. kalaupun ditemukan kesulitan hanya pada aspek-aspek tertentu saja dan hal itu adalah suatu hal yang wajar. demikian juga dengan guru yang sudah berpengalaman. hanya yang membedakannya adalah tingkat kesulitan yang ditemukan. Tingkat kesulitan yang ditemukan guru semakin hari semakin berkurang pada aspek tertentu seiring dengan bertambahnya pengalaman sebagai guru. berbeda dengan guru yeng bukan berlatar belakang pendidikan keguruan dan ditambah tidak berpengalaman mengajar, akan banyak menemukan masalah dikelas. terjun menjadi guru mungkin dengan tidak membawa bekal berupa teori-teori pendidikan dan keguruan. berbagai permasalahan yang dikemukakan diatas merupakan aspek-aspek yang ikut mempengaruhi efektivitas mengajar guru.
C. Anak Didik
Anak didik adalah orang yang dengan sengaja datang ke sekolah untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Dengan dimasukkan mereka kesekolah oleh orang tua mereka. oleh karena itu guru dituntut sebagai pengemban tanggung jawab. tanggung jawab seorang guru tidak hanya terhadap seorang anak tetapi dalam jumlah yang cukup banyak. anak yang dalam jumlah cukup banyak itu tentu saja dari latar belakang yang berbeda, mulai dari kepribadian, intelektual, biologis, psikologis. hal ini sangatlah mmpengaruhi kegiatan belajar mengajar.
Anak yang mempunyai latar belakang yang berbeda-beda itu dikumpulkan dalam satu kelas. hal ini sangatlah mempengaruhi kegiatan mengajar guru sebagai pengelola kelas. selain itu juga ada anak yang menyenangi pelajaran tertentu dan kurang menyenangi pelajaran yang lain. ini merupakan prilaku anak yang bermula dari sikap mereka karena minat yang berlainan. hal ini tentu sangat mmpngaruhi kegiatan belajar anak. biasany pelajaran yang disenangi, dipelajari oleh anak dengan senang hati pula, demikian juga dengan sebaliknya, akibatnya hasil belajar mereka sangatlah menentukan prestasi yang dicapai.
D. Kegiatan Pengajaran
Dalam kegiatan belajar mengajar, pendekatan yang guru ambil akan menghasilkan kegiatan anak didik yang bermacam-macam. misalnya guru yang menggunakan pendekatan individual akan berusaha memahami anak didik sebagai mahluk individual dengan segala persamaan dan perbedaannya. guru yang menggunakan pendekatan kelompok berusaha memahami anak didik sebagai mahluk sosial. dari kedua pendekatan tersebut lahirlah kegiatan belajar mengajar yang berlainan, dengan tingkat keberhasilan belajar mengajar yang tidak sama. perpaduan dari kedua pendekatan itu akan menghasilkan hasil belajar yang lebih baik. strategi penggunaan metode mengajar sangat menentukan kualitas hasil belajar mengajar. jarang ditemukan guru yang hanya menggunakan satu metode saja didalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar. hal ini disebabkan rumusan tujuan yang guru buat tidak hanya menggunakan satu metode, melainkan banyak metode yang digunakan. penggunaan berbagai metode inilah akan mencapai tujuan yang diinginkan. dengan demikian, kegiatan pengajaran yang dilakukan oleh guru akan mempengaruhi keberhasilan belajar mengajar.
E. Bahan dan Alat Evaluasi
Bahan evaluasi adalah suatu bahan yang terdapat didalam kurikulum yang sudah dipelajari oleh anak didik guna kepentingan ulangan (evaluasi). Alat-alat evaluasi yang umum digunakan pada waktu ulangan tidak hanya benar salah dan pilihan ganda akan tetapi juga menjodohkan, melengkapi, essay. masing-masing alat evaluasi tersebut mempunyai beberapa kelebihan dan kekurangan. menyadari akan hal itu, maka jarang ditemukan pembuatan item-item soal yang hanya menggunakan satu alat evaluasi. tetapi guru menggabungkannya lebih dari satu alat saja.
Alat evaluasi terdiri dari dua bagian, yaitu tes yang bersifat objektif dan tes yang bersifat subjektif. tes yang bersifat objektif ini seperti halnya : Pilihan ganda, benar salah, melengkapi, menjodohkan. sifat alat tes objektif ini mengharuskan anak didik memilih jawaban yang sudah disediakandan tidak ada alternatif lain diluar alternatif itu. Maka bila anak didik dapat menjawabnya, dia cenderung melakukan spekulasi. Akan tetapi tes objektif dapat menampung hampir semua bahan pelajaran yang sudah dipelajari oleh anak didik dalam satu semester. Sedangkan alat evaluasi yang bersifat subyektif seperti soal essay dapat mengurangi tindakan spekulasi pada anak didik. Sebab alat tes ini hanya dapat dijawab bila anak didik benar-benar menguasai bahan pelajaran dengan baik. Bila tidak maka besar kemungkinannya anak didik tidak dapat menjawabnya. Selain itu tes subyektif ini berkaitan dengan tulisan anak didik, apalagi bila tulisan anak didik tidak mudah terbaca, kejengkelan hati segera muncul dan pemberian nilai tanpa pemeriksaan pun dilakukan.
Kedua alat evaluasi tersebut sangatlah menentukan hasil belajar yang di capai siswa. Hal ini berkaitan pula dengan metode penilaian yang akan ditetapkan guru tersebut. Apakah guru menggunakan penilaian objektif atau subyektif ataukah guru tersebut mengkombinasikan kedua alat evaluasi tersebut dalam satu semester. sehingga akan terlihat kemampuan siswa dalam menyerapmateri yang di ajarkan.
F. Suasana Evaluasi
Faktor suasana evaluasi juga sangat mempengaruhi efektivitas belajar mengajar. Pelaksanaan evaluasi biasanya dilaksanakan di dalam kelas. Semua anak didik di bagi menurut kelas masing-masing. Besar kecilnya jumlah anak didik yang dikumpulkan di dalam kelas akan mempengaruhi suasana kelas. Sekaligus mempengaruhi suasana evaluasi yang dilaksanakan. Sistem silang adalah tehnik lain dari kegiatan mengelompokkan anak didik dalam rangka evaluasi. Sistem ini dimaksudkan untuk mendapat data hasil evaluasi yang benar-benar objektif.
Karena sikap mental anak didik belum semuanya siap untuk berlaku jujur, maka hadirkanlah satu atau dua orang pengawas atau guru yang ditugaskan untuk mengawasinya. Selama pelaksanaan evaluasi, selama itu juga seorang pengawas mengamati semua sikap, gerak-gerik yang dilakukan oleh anak didik. Pengawasan yang dilakukan itu tidak hanya duduk berlama-lama di kursi, tapi dapat berjalan dari muka ke belakang sewaktu-waktu sesuai keadaan.
Suasana evaluasi yang demikian tentu saja disadari atau tidak, merugikan anak didik untuk bersikap jujur dengan sungguh-sungguh belajar di rumah dalam mempersiapkan menghadapi ulangan. Siswa merasa diperlakukan secara tidak adil, mereka tentu saja kecewa, sedih, berontak dalam hati, mengapa harus terjadi suasana evaluasi yang kurang sedap di pandang mata itu. Dampak di kemudian hari dari sikap pengawas yang demikian itu, adalah mengakibatkan anak didik kemungkinan besaruntuk malas belajar dan kurang memperhatikan penjelasan guru ketika belajar mengajar berlangsung. Hal seperti inilah yang seharusnya tidak boleh terjadi pada diri siswa. inilah dampak yang merugikan terhadap keberhasilan belajar mengajar.
2.3. Kerangka Berpikir dan Hipotesis
2.3.1. Kerangka Berfikir
Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan yang berasal dari sifat-sifat yang dibawa sejak lahir yang terdapat pada diri seorang pemimpin. Menurut konsep ini kepemimpinan diartikan sebagai “traits within the individual leader”. Seorang pemimpin dapat menjadi pemimpin karena memang dilahirkan sebagai pemimpin dan bukan karena dibuat atau dididik untuk itu (leaders were born not made). Akan tetapi konsep tersebut berubah sesuai dengan perkembangan zaman. Kini konsep kepemimpinan banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor dengan upaya untuk dapat mewujudkan tujuan organisasi. Sama halnya dengan kepala sekolah yang juga dikategorikan sebagai pemimpin dalam sekolah. Kepala sekolah harus mempunyai berbagai macam kemampuan untuk dapat bekerja sama agar dapat mewujudkan tujuan yang diinginkan. Upaya untuk mewujudkan tujuan tersebut sangatlah berkaitan dengan kepemimpinan yang diterapkan.
Konsep kepemimpinan berkaitan dengan kompetensi dan gaya yang diterapkan oleh pemimpin. Gaya kepemimpinan menunjukkan bahwa kita berurusan dengan kombinasi bahasa dan tindakan, Pola bahasa dan tindakan yang bagaimana yang dapat digunakan kepala sekolah untuk membantu guru mencapai tujuan pengajaran yang diinginkan, Kepala sekolah dituntut untuk senantiasa meningkatkan efektivitas kinerja guru. Sehingga dengan kepemimpinan yang diterapkan kepala sekolah akan mampu memberdayakan guru-guru untuk melaksanakan proses pengajaran dengan baik yang sesuai dengan tujuan yang ditetapkan. Jika kepala sekolah menerapkan kepemimpinan maka efektivitas mengajar guru akan berhasil. Dengan demikian terdapat hubungan antara kepemimpinan kepala sekolah terhadap efektivitas mengajar guru. Hal ini dapat dilihat dengan lebih jelas pada Diagram kerangka berpikir berikut ini
2.3.2. Hipotesis
Sesuai dengan masalah yang akan diteliti, dalam uraian teori dan kerangka berfikir yang dikembangkan maka Hipotesis dalam skripsi ini dapat dirumuskan sebagai berikut :
Ho = Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru.
Ha = Terdapat hubungan yang signifikan antara kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru.




BAB III

METODELOGI PENELITIAN

3.1 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan data tentang : (1) Model kepemimpinan kepala sekolah, (2) efektivitas mengajar guru di SD Islam Plus Cahaya Insan Cimanggis,Depok.
Berdasarkan data dan secara operasional, Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui seberapa jauh hubungan antara model kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru di SD Islam Plus Cahaya Insan Cimanggis, Depok.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Tempat melakukan penelitian ini di SD Islam Terpadu Cahaya Insan yang berlokasi di Kelurahan Jati Jajar, Kecamatan Cimanggis, Depok. Adapun waktu penelitian dilakukan pada tanggal 19 Februari sampai dengan 23 Februari 2010.
3.3 Metode Penelitian
Metode Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. Metode ini berupaya untuk menggambarkan ada tidaknya hubungan antara variabel satu (variabel terikat) dengan variabel yang lain (variabel bebas).
Variabel penelitian adalah objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Variabel menurut Y.W. Best yang dikutip oleh Sanafiah Faisal adalah kondisi yang oleh peneliti dimanipulasi, dikontrol dan di


observasikan dalam suatu penelitian. Selain itu variabel juga dijadikan objek pengamatan penelitian.
Variabel dalam penelitian ini penulis bagi menjadi :
1. Independent Variabel (Variabel Bebas): Gaya Kepemimpinan Kepala Sekolah (Variabel X)
2. Dependent Variabel (Variabel Terikat) : Efektivitas Mengajar guru (Variabel Y)



X = Gaya kepemimpinan kepala sekolah Y = Efektivitas Mengajar Guru
3.4 Tehnik Pengambilan Sampel
Dalam pengambilan sampel penelitian ini, Penulis terlebih dahulu menentukan Populasi penelitian untuk memudahkan dan memeperjelas pengambilan sempel tersebut.
a. Populasi Penelitian
Menurut Arikunto Suharsimi Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian. Sedangkan menurut Sudjana Populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin, menghitung hasil atau pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggota kumpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya. Jadi populasi adalah keseluruhan subjek penelitian yang berupa data kuantitatif dan kualitatif dari mengukur dan menghitung. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru yang ada di SD Islam Terpadu Cahaya Insan yang berjumlah 20 orang.
b.Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti. Sedangkan menurut Sudjana Sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi. Semua populasi di atas dijadikan sampel seluruhnya, karena populasi kurang dari seratus. Teknik sampling yang digunakan adalah total sampling yaitu seluruh populasi dijadikan sampel penelitian yaitu pengasuh dan santri.
3.5. Tehnik Pengumpulan Data
Metode yang penulis gunakan dalam penyusunan skripsi ini yaitu metode kuantitatif dengan menggunakan rumusan korelasi product moment yang bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan mengenai model kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar. Untuk mendapatkan data yang diperlukan, penulis menggunakan :
1. Penelitian kepustakaan (Library Research) yaitu dengan cara menghimpun data dan fakta dari beberapa literature baik berupa buku, majalah, maupun artikel yang ada kaitannya dengan permasalahan yang di bahas.
2. Penelitian lapangan (Field Research) yaitu dengan cara penulis mengadakan penelitian secara langsung ke lokasi, penelitian ini dimaksud guna mengumpulkan data yang diperlukan dalam penyusunan skripsi ini.
Untuk mengidentifikasi seberapa penting hubungan antara model kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru, akan diberikan angket yang berbentuk skala sikap.
3.6. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah angket model kepemimpinan kepala sekolah dan angket efektivitas mengajar guru. angket tersebut digunakan untuk mendapatkan tanggapan dari para guru mengenai masalah kepemimpinan kepala sekolah dan kegiatan pengajaran. angket ini berisi serangkaian(daftar) pernyataan tertulis, dan masing-masing angket terdiri dari lima belas butir pernyataan. dalam angket ini guru diminta untuk memilih salah satu dari empat alternatif pernyataan tersedia. Pemilihan terhadap salah satu dari empat alternatif itu akan mencerminkan model kepemimpinan kepala sekolah terhadap kegiatan pengajaran yang dilakukan oleh guru disekolah. skor hasil hitung angket dihitung berdasarkan rentang nilai 1- 4. penskoran akhir dengan menjumlahkan seluruh skor tiap butir pernyataan.
3.6.1 Konsepsi
Definisi konseptual kepemimpinan adalah kemampuan yang dimiliki seorang pemimpin untuk membimbing, mengarahkan dan menggerakkan bawahannya untuk mencapai tujuan organisasi.
Definisi konseptual efektivitas mengajar adalah tolok ukur sampai sejauh mana keberhasilan kelompok orang berinteraksi dalam suatu sistem, untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungannya, dan merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dengan menggunakan bahan pengajaran yang dapat menimbulkan proses belajar mengajar sehingga kualitas pendidikan akan efektif dan efisien.

Tabel 1 :
Tabel kisi-kisi angket Model Kepemimpinan Kepala sekolah
Dimensi Indikator Butir
1. Hakikat kepemimpinan 1. Kemempuan kepala sekolah dalam memimpin 11, 7
2. Sifat kepemimpinan kepala sekolah 8, 12
2. Pendekatan dalam kepemimpinan 1. Hubungan kepala sekolah dengan guru 6, 15
2. Intervensi kepala sekolah dalam pengajaran 14, 10
3. Penerapan gaya kepemimpinan 1. kepemimpinan otoriter 1, 4
2. Kepemimpinan lissez-faire 5, 13
3. Kepemimpinan demokratis 2, 3, 9

Tabel 2 :
Tabel kisi-kisi angket Efektivitas mengajar guru
Dimensi Indikator Butir
1. Interpersonal skill guru 1. Manajemen Kelas 2
2. Hubungan interpersonal guru dengan siswa 4
3. Pengembangan Profesi guru 13
2. Tahapan dalam pengajaran 1. Persiapan guru dalam mengajar 6, 9
2. Pelaksanaan pembelajaran di kelas 1,3,7,14
3. Penilaian kegiatan relajar mengajar 5,12,15
3. Tercapainya tujuan pengajaran 1. Alokasi waktu pembelajaran dan pengajaran yang ditentukan 11
2. Tingkat keberhasilan Pengajaran 8, 10

3.6.2. Uji Instrumen
Setelah penyusunan instrumen penelitian, selajutnya melakukan uji coba terhadap instrumen tersebut. Uji coba dilakukan terhadap 30 orang yang relatif sama dengan responden, uji coba dilakukan sebelum kuesioner dibagikan kepada responden. Tujuan uji coba instrumen adalah untuk melihat validitas dan realibilitas instrumen yang digunakan.
Validitas yang digunakan adalah validitas isi atau bahan yang di uji atau di tes relevan dengan kemampuan, pengetahuan, dan latar belakang orang yang di uji.
1. Menurut Suharsimi Arikunto, Validitas adalah “Suatu ukuran yang menunjukan tingkat-tingkat kevalidan atau keshahihan suatu instrument. Suatu instrument dikatan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan, dapat mengungkapkan dari data variabel yang diteliti secara tepat. Tinggi rendahnya validitas instrumen menunjukan sejauh mana data yang terkumpul tidak menyimpang dari gambaran tentang validitas yang dimaksud. Perhitungan validitas variabel x dapat dilihat pada lampiran.
Tabel 3
Daftar Hasil Uji Coba validitas variabel X
No item. Hasil perhitungan variabel X Keterangan
1. 0,49 Valid
2. 0,49 Valid
3. 0,78 Valid
4. 0,64 Valid
5. 0,45 Valid
6. 0,79 Valid
7. 0,79 Valid
8. 0,69 Valid
9. 0,72 Valid
10. 0,37 Valid
11. 0,73 Valid
12. 0,60 Valid
13. 0,39 Valid
14, 0,49 Valid
15. 0,63 Valid


Tabel 4
Daftar Hasil Uji Coba validitas variabel Y
No item Hasil perhitungan variabel Y Keterangan
1. 0,44 Valid
2. 0,51 Valid
3. 0,58 Valid
4. 0,42 Valid
5. 0,44 Valid
6. 0,47 Valid
7. 0,59 Valid
8. 0,62 Valid
9. 0,46 Valid
10. 0,55 Valid
11. 0,49 Valid
12. 0,43 Valid
13. 0,41 Valid
14. 0,36 Valid
15. 0,37 Valid

2. Uji Reliabilitas yaitu ketetapan suatu tes apabila diteskan pada subyek yang sama. Dalam hal ini validitas lebih penting dan reliabilitas ini perlu, karena mendukung validitas. Sebuah tes mungkin reliabel tetapi tidak valid. Sebaliknya, tes yang valid biasanya reliabel. Perhitungan reliabilitas variabel x dapat dilihat pada lampiran. Untuk mengetahui valid dan reliabilitas tidaknya instrument dapat menggunakan pedoman sebagai berikut :
0,800 – 1,00 : Sangat tinggi
0,600 – 0,795 : Tinggi
0,400 – 0,595 : Cukup
0,200 – 0,395 : Rendah
0,00 – 0,195 : Sangat rendah
Dari hasil uji coba variabel X didapatkan nilai alpha cronbach sebesar 0,8452 dan variabel Y didapatkan nilai alpha cronbach sebesar 0,7188
Setelah dilakukan perhitungan dengan rumus validitas dan reliabilitas dapat diinterprestasikan pada tabel r dengan α = 0,05. Suatu soal dikatakan valid dan reliabel apabila r = 0,361, dengan demikian berarti instrumen yang akan digunakan telah memenuhi syarat.
3.6 Teknik Analisis Data
Teknik analisis data merupakan cara yang digunakan untuk menguraikan data yang diperoleh agar data tersebut mudah dipahami oleh orang lain yang ingin mengetahui hasil penelitian itu. Setelah data terkumpul dari hasil kegiatan penelitian, selanjutnya dilakukan kegiatan menganalisis data. Kegiatan menganalisis data ada tiga tahap yaitu:
1. Tahap persiapan
Pada tahap ini dilakukan beberapa kegiatan antara lain:
- Mengecek nama dan kelengkapan identitas responden
- Memeriksa isi insrrumen pengisian data
- Mengecek isian data
2. Tahap tabulasi
Tabulasi adalah mengelompokkan data ke dalam tabel frekuensi untuk mempermudah dalam menganalisa.
- Editing
Dalam pengolahan data yang pertama kali dilakukan adalah semua angket harus diteliti satu persatu tentang kelengkapan dan kebenaran pengisian data inventory sehingga terhindar dari kekeliruan dan kesalahan.
- Skoring
Setelah melalui tahap editing, penulis memberikan skor terhadap pertanyaan yang ada pada data inventory. Setiap pertanyaan terdiri dari empat alternatif jawaban yang memiliki skor berbeda-beda yaitu sebagai berikut :
Pilihan jawaban ke 1 mempunyai skor 4
Pilihan jawaban ke 2 mempunyai skor 3
Pilihan jawaban ke 3 mempunyai skor 2
Pilihan jawaban ke 4 mempunyai skor 1
Setelah hasil data inventori tersebut diketahui kemudian skor masing-masing tingkat perhatian orang tua dijumlahkan dan diinterpretasikan kedalam kategori :
46 – 60 Sangat baik
31 – 45 Baik
16 – 30 Cukup
0 – 15 Kurang
3.7 Hipotesis Statistik
Untuk mengetahui tingkat korelasi antara hubungan gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru di Sekolah Dasar islam Plus Cahaya Insan Cimanggis, Depok. digunakan rumus korelasi produk momen yang dilakukan melalui tahap berikut :
1. Menentukan rentang kelas, yaitu:
Rentang = Data terbesar – Data terkecil
2. Menentukan banyaknya kelas interval, dengan rumus sebagai berikut
Banyak kelas = 1 + (3,3) log n
3. Menentukan panjang kelas interval, yaitu:
P = Rentang
Banyak Kelas
4. Menentukan daftar distribusi frekuensi variabel x dan variabel y
5. Mencari mean (rata-rata) dengan rumus sebagai berikut:
Rata-rata = ∑Xifi
∑fi
6. Mencari standar deviasi, dengan rumus sebagai berikut:
S = √∑(X – X)2
N -1
7. Menyusun daftar nilai untuk menguji kenormalan distribusi variabel x dan variabel y
8. Menghitung tingkat kenormalan dari distrib usi untuk variabel x dan variabel y yaitu dengan menggunakan chi kuadrat.
X2 = (Oi – Ei)2
Ei
9. Hasil perhitungan dari chi kuadrat dibandingkan dengan X tabel yaitu:
- Tingkat kepercayaan = 0,95 atau taraf nyata (α = 0,05)
- Apabila X2 hitung < X2 tabel, berarti variabel x dan variabel y berdistribusi normal. 10. Mencari angka korelasi dengan menggunakan rumus: Keterangan : rxy : Angka indeks korelasi “r” produk momen N : Jumlah responden ∑xy : Jumlah hasil perkalian antara skor x dan skor y ∑x : Jumlah seluruh skor x ∑y : Jumlah seluruh skor y 11. Memberikan interpretasi terhadap rxy. Terlebih dahulu kita rumuskan hipotesis alternatif dan hipotesis nolnya : Ha : Ada korelasi positif yang signifikan antara variabel x dan variabel y. Ho :Tidak ada korelasi positif yang signifikan antara variabel x dan variabel y. Tabel 3.4 Interpretasi Korelasi Product Moment “ r “ Product Moment Interpretasi 0,00 – 0,20 Variabel x dan variabel y terdapat korelasi tetapi sangat lemah 0,20 – 0,40 Variabel x dan variabel y terdapat korelasi yang rendah atau lemah 0,40 – 0,70 Variabel x dan variabel y terdapat korelasi yang sedang 0,70 – 0,90 Variabel x dan variabel y terdapat korelasi yang kuat 0,90 – 0,100 Variabel x dan variabel y terdapat korelasi yang sangat kuat 12. Uji kedua hipotesis dengan membandingkan besarnya rxy atau ro dengan besarnya rtabel yang tercantum dalam tabel nilai “r” product moment dengan memperhitungkan df–nya lebih dahulu . df = N – nr keterangan : df : Degrees of freedom N : Number of cases nr : Banyaknya variabel yang dikorelasikan setelah itu hasilnya dicocokkan dengan tabel nilai koefisien korelasi “r” produk momen baik pada taraf signifikan 5% ataupun pada taraf 1% kemudian dibuat kesimpulan apakah terdapat korelasi positif yang signifikan atau tidak. 13. Uji koefisien Determinasi Koefisien determinasi dimaksud untuk mengeahui seberapa besar persentase faktor variabel penyebab mempengaruhi faktor akibat. Dalam penelitian ini tentunya adalah untuk mengetahui seberapa besar pengaruh hubungan antara perhatian orang tua dengan hasil belajar anak. Rumus koefisien determinasi : KD = r2 x 100 % Keterangan : KD : Nilai koefisien determinasi r : Nilai koefisien korelasi 14. Test “t” digunakan untuk menguji kebenaran atau kepalsuan hipotesis nihil yang menyatakan bahwa diantara variabel x dan variabel y terdapat hubungan yang berarti atau tidak. Untuk mencarinya dengan rumus : . t hitung = Keterangan : t hitung : Nilai t rxy : Nilai koefisien korelasi n : Jumlah sampel 15. Berdasarkan besarnya df atau db lalu cari “t” yang tercantum dalam tabel nilai “t”, pada taraf signifikansi 5% dan taraf signifikansi 1% dengan cara : Kriteria pengujian, tolak H apabila t yang didapat dari hasil perhitungan lebih besar dari t yang didapat dalam tabel dirumuskan sebagai berikut : t hitung > t tabel. Dalam penelitian hipotesis statistic adalah dengan menggunakan taraf signifikasi 5 % ( 0,05 ).












BAB IV
Hasil Penelitian

4.1. Deskripsi Data
Teknik pengumpulan data yang dilakukan penulis dalam penyusunan skripsi ini adalah melalui angket. Penulis menyebarkan angket yang berisi 50 item pernyataan terdiri dari 25 item pernyataan variabel X gaya kepemimpinan kepala sekolah dan 25 item pernyataan variabel Y efektivitas mengajar guru, dan disebarkan kepada 45 orang guru di Sekolah Dasar Islam Plus Cahaya Insan Cimanggis Depok.
a. Variabel X Gaya kepemimpinan kepala sekolah
Dalam pengelolaan data untuk mendapatkan hasil yang diperoleh dari angket, Penulis menempuh langkah-langkah sebagai berikut :
1) Memeriksa setiap lembar jawaban angket
2) Memberi nomor lembaran jawaban angket
3) Memberi skor nilai pada setiap item dalam dua komponen.
Tabel 6 :
Daftar Skor Variabel X

No. X No. X No. X
1. 99 16. 98 31. 105
2. 90 17. 102 32. 100
3. 99 18. 103 33. 98
4. 101 19. 110 34. 99
5. 95 20. 103 35. 105
6. 98 21. 93 36. 100
7. 100 22. 97 37. 98
8. 96 23. 94 38. 95
9. 99 24. 100 39. 92
10. 101 25. 96 40. 100
11. 109 26. 106 41. 107
12. 103 27. 106 42. 99
13. 101 28. 104 43. 104
14. 97 29. 110 44. 101
15. 97 30. 99 45. 109

Hasil pengukuran melalui instrument ini digunakan untuk mengetahui nilai tertinggi 110 dan nilai terendah 90, dengan demikian nilai jangkauan sebesar 20. Data dapat dilihat melalui tabel berikut ini dengan menggunakan rumus Struges diperoleh banyaknya kelas sebagai berikut (perhitungan dapat dilihat pada lampiran) :
Tabel 4.4
Daftar Distribusi Frekuensi Variabel X
Interval F Tanda Kelas Relatif D Fd d2 Fd2
90 - 92 2 91 4,5 -3 -6 9 18
93 - 95 4 94 8,9 -2 -8 4 16
96 - 98 9 97 20 -1 -9 1 9
99 - 101 15 100 33,3 0 0 0 0
102-104 6 103 13,3 1 6 1 6
105 -107 5 106 11,1 2 10 4 20
108 -110 4 109 8,9 3 12 9 36
∑F=45 ∑Fd=5 ∑Fd2=105

Berdasarkan hasil perhitungan di atas (perhitungan dapat dilihat pada lampiran 5), diperoleh nilai rata-rata sebesar 100,33 , modus 100, simpangan baku 15,99 , dan median sebesar 101,6.


Gambar 3 Histogram Variabel X








Berdasarkan tabel dan gambar di atas terlihat bahwa frekuensi gaya kepemimpinan kepala sekolah mendapat hasil yang baik pada kelas interval 99-101 dengan frekuensi sebanyak 15 orang guru.
Berdasarkan tabel distribusi di atas, juga dapat diketahui bahwa kepala sekolah menerapkan gaya kepemimpinan melalui tabel frekuensi dari setiap indikator sebagai berikut :
b. Variabel Y efektivitas mengajar guru
Tabel 4.2
Daftar skor gaya kepemimpinan kepela sekolah (variabel Y)

No. Y No. Y No. Y
1. 100 16. 111 31. 102
2. 105 17. 106 32. 110
3. 103 18. 107 33. 106
4. 108 19. 110 34. 105
5. 101 20. 99 35. 112
6. 104 21. 106 36. 99
7. 106 22. 107 37. 107
8. 108 23. 103 38. 106
9. 103 24. 108 39. 109
10. 105 25. 104 40. 112
11. 104 26. 105 41. 102
12. 109 27. 102 42. 112
13. 102 28. 109 43. 104
14. 108 29. 106 44. 101
15. 110 30. 110 45. 107
Hasil pengukuran melalui instrument ini digunakan untuk mengetahui nilai tertinggi 112 dan nilai terendah 99, dengan demikian nilai jangkauan sebesar 13. Data dapat dilihat melalui tabel berikut ini dengan menggunakan rumus Struges diperoleh banyaknya kelas sebagai berikut :
Tabel 4.6
Daftar Distribusi Frekuensi Variabel Y

Interval F Tanda Kelas Relatif D Fd d2 Fd2
99 -100 3 99,5 6,6 -3 -9 9 27
101-102 6 101,5 13,3 -2 -12 4 24
103 -104 7 103,5 15,6 -1 -7 1 7
105 -106 10 105,5 22,2 0 0 0 0
107 -108 8 107,5 17,8 1 8 1 8
109 -110 7 109,5 15,6 2 14 4 28
111 - 112 4 111,5 8,9 3 12 9 36
∑F=45 ∑Fd=6 ∑Fd2=130

Berdasarkan hasil perhitungan di atas (perhitungan dapat dilihat pada lampiran 6), diperoleh nilai rata-rata sebesar 105,77, modus 106, simpangan baku 8,4, dan median sebesar 108,6
Gambar 4 Histogram Variabel Y






Berdasarkan tabel dan gambar di atas terlihat bahwa frekuensi efektivitas mengajar guru, mendapat nilai yang baik yaitu pada interval 105-106 sebanyak 10 responden.
A. Pengujian Persyaratan Analisis
1. Hasil Uji Normalitas Variabel Gaya kepemimpinan kepala sekolah
Uji normalitas data dilakukan untuk mengetahui apakah data berdistribusi normal atau tidak.
Tabel 4.7
UJi Normalitas Variabel Gaya kepemimpinan kepala sekolah

Interval F Batas Kelas Z Fz Luas Kls Interval Fe
90 – 92 2 89,5 -0,68 0,2483 0,0775 3,5
93 – 95 4 92,5 -0,49 0,3121 0,1928 8,7
96 – 98 9 95,5 -0,30 0,6179 0,2819 12,7
99 – 101 15 98,5 -0,11 0,4562 0,2427 10,9
102 – 104 6 101,5 0,08 0,5319 0,3205 14,4
105 – 107 5 104,5 0,26 0,6026 0,4059 18,3
108 – 110 4 107,5 0,45 0,6736 0,4977 22,4
45 110,5 0,64 0,7389

Berdasarkan data dari tabel di atas, dapat dihitung (perhitungan dapat dilihat pada lampiran 7) distribusi normal nilai tabel dengan α = 0,05 adalah 36,4 dengan demikian 35,5 < 36,4 maka data berdistribusi normal (0,95 : 24). 2. Hasil Uji Normalitas Variabel Efektivitas mengajar guru Uji normalitas data variable Y efektivitas mengajar guru dilakukan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak. Tabel 4.8 UJi Normalitas Variabel efektivitas mengajar guru Interval F Batas Kelas Z Fz Luas Kls Interval Fe 99 – 100 3 98,5 -0,87 0,1922 0,0508 2,3 101 – 102 6 100,5 -0,63 0,2643 0,0920 4,1 103 – 104 7 102,5 -0,39 0,3483 0,1533 6,9 105 – 106 10 104,5 -0,15 0,4404 0,2360 10,6 107 – 108 8 106,5 0,09 0,5359 0,3375 15,2 109 – 110 7 108,5 0,33 0,6298 0,4486 20,2 111 – 112 4 110,5 0,56 0,7123 0,5614 25,3 45 112,5 0,80 0,7881 Berdasarkan data dari tabel di atas, dapat dihitung (perhitungan dapat dilihat pada lampiran 8 ) distribusi normal dengan hasil nilai hitung adalah 31,12 sedangkan distribusi normal nilai tabel dengan α = 0,05 adalah 31,4 dengan demikian 31,12 < 31,4 maka data berdistribusi normal (0,95 : 20). 4.2. Analisa Data Dalam melakukan uji hipotesa, skripsi ini menggunakan rumus korelasi product moment seperti yang sudah dijelaskan pada bab terdahulu tujuan penggunaan rumus ini untuk mengetahui seberapa besar tingkat atau kekuatan korelasi antara variabel X dan variabel Y. Selanjutnya akan dilakukan penghitungan untuk memperoleh angka indeks korelasi (rxy) dengan terlebih dahulu menyiapkan tabel kerja atau tabel penghitungannya sebagai berikut : Tabel 4.9 korelasi variabel x dan variabel y Responden X Y X2 Y2 XY 1. 99 100 9801 10000 9900 2. 90 105 8100 11025 9450 3. 99 103 9801 10609 10197 4. 101 108 10201 11664 10908 5. 95 101 9025 10201 9595 6. 98 104 9604 10816 10192 7. 100 106 10000 11236 10600 8. 96 108 9216 11664 10368 9. 99 103 9801 10609 10197 10. 101 105 10201 11025 10605 11. 109 111 11881 12321 12099 12. 103 109 10609 11881 11227 13. 101 102 10201 10404 10302 14. 97 108 9409 11664 10476 15. 97 104 9409 10816 10088 16. 98 111 9604 12321 10878 17. 102 106 10404 11236 10812 18. 103 107 10609 11449 11021 19. 110 110 12100 12100 12100 20. 103 106 10609 11236 10918 21. 93 99 8649 9801 9207 22. 97 107 9409 11449 10379 23. 94 103 8836 10609 9682 24. 100 105 10000 11025 10500 25. 96 104 9216 10816 9984 26. 106 108 11236 11664 11448 27. 106 110 11236 12100 11660 28. 104 109 10816 11881 11336 29. 110 112 12100 12544 12320 30. 99 107 9801 11449 10593 31. 105 106 11025 11236 11130 32. 100 102 10000 10404 10200 33. 98 102 9604 10404 9996 34. 99 105 9801 11025 10395 35. 105 106 11025 11236 11130 36. 100 107 10000 11449 10700 37. 98 99 9604 9801 9702 38. 95 106 9025 11236 10070 39. 92 109 8464 11881 10028 40. 100 112 10000 12544 11200 41. 107 112 11449 12544 11984 42. 99 102 9801 10404 10098 43. 104 104 10816 10816 10816 44. 101 101 10201 10201 10201 45. 109 110 11881 12100 11990 N=45 4518 4764 454580 504896 478682 Dari tabel di atas dapat diketahui : ∑ X = 4518, ∑ Y = 4764, ∑ X2 = 454580, ∑ Y2 = 504896, ∑ XY = 478682 Dari hasil perhitungan (perhitungan dapat dilihat pada lampiran 10) maka diperoleh nilai korelasi antara skor perhatian orang tua dengan hasil belajar anak adalah 0,52. Angka tersebut terdapat diantara 0,40 – 0,70 yang menunjukkan bahwa antara variabel x dan variabel y terdapat korelasi tingkat sedang. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa ada hubungan yang signifikan dengan korelasi tingkat sedang antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru. Sedangkan jika di interpretasikan dengan cara membandingkan antara rxy (r hitung) dengan r tabel yang terlebih dahulu dicari db/df = N – nr, yaitu 45 – 2 = 43. Pada taraf 5 % r tabel = 0,288 dan pada taraf 1 % r tabel = 0,372. sehingga ( 0,52 > 0,288 dan 0,372).
Dari perhitungan diperoleh hasil t hitung sebesar 3,98 > t tabel sebesar 2,000, maka koefisien korelasi rxy = 0,52 signifikan. Gambaran sebagai berikut: :
Ho : Tidak ada hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru.
Ha : Ada hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru.
Dari hasil penghitungan rxy pada taraf signifikan 5 % dan pada taraf 1 % lebih besar dari r tabel, maka pada taraf signifikan 5 % dan 1 % hipotesa nol (H0) ditolak karena tidak teruji kebenarannya, dan hipotesa alternatif (Ha) diterima. ini berarti menunjukkan terdapat korelasi yang signifikan antara kedua variabel tersebut.
Hasil perhitungan koefisien determinasi (perhitungan dapat dilihat pada lampiran ) diperoleh nilai sebesar 27,04%. Nilai ini menunjukkan gaya kepemimpinan kepala sekolah memberikan kontribusi tehadap efektivitas mengajar guru sebesar 27,04%.
Interpretasi Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil perhitungan koefisien korelasi yang telah dilakukan dengan rumus koefisien korelasi product moment antara gaya kepemimpinan kepala sekolah (variabel x) dengan efektivitas mengajar guru (variabel y) diperoleh nilai koefisien korelasi sebesar 0,52 jika diinterpretasikan secara sederhana maka nilai 0,52 terletak diantara 0,40-0,70 sehingga ada korelasi yang sedang.
Dari hasil analisis uji hipotesis malalui perbandingan t hitung dan t tabel, maka t hitung>t tabel memberikan penjelasan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru.
Nilai koefisien korelasi sebesar 27,04% yang berarti menunjukkan gaya kepemimpinan kepala sekolah mempengaruhi efektivitas mengajar guru sebesar 27,04% dan 20,79% dipengaruhi oleh faktor lain.
Berdasarkan perhitungan di atas, maka hipotesis yang menyatakan ada hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru diterima. Artinya gaya kepemimpinan yang baik maka akan menghasilkan efektivitas mengajar guru yang maksimal.



BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang penulis laksanakan maka penulis memperoleh kesimpulan bahwa ada hubungan signifikan antara gaya kepemimpinan kepela sekolah dengan efektivitas mengajar guru di Sekolah dasar islam plus cahaya insane cimanggis, Depok. Hasil dari perhitungan koefisien korelasi sebesar 0,52 yang berarti mempunyai hubungan yang sedang antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru. Koefisien determinasi sebesar 27,04 % yang berarti efektivitas mengajar guru 27,04 % dipengaruhi oleh faktor gaya kepemimpinan kepala sekolah dan 72,06 % dipengaruhi oleh faktor lain.
B. Implikasi
Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan maka dikemukakan implikasi penulis sebagai berikut yaitu pengaruh positif dan signifikasi antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru. Dalam hal ini terlihat bahwa semakin tinggi tingkat kepemimpinan kepala sekolah maka akan semakin tinggi pula efektivitas mengajar guru begitu pula sebaliknya, semakin rendah kepemimpinan kepala sekolah maka semakin rendah pula efektivitas mengajar guru..
C. Saran
Berdasarkan hasil penelitian ini maka penulis mengajukan saran sebagai berikut :
1. Kepada Kepala sekolah dasar islam plus cahaya insan Cimanggis, Depok.
Dengan terbukti adanya hubungan yang signifikan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru berarti masalah kepemimpinan kepala sekolah perlu ditingkatkan lagi. Walaupun kepemimpinannya sudah baik namun alangkah baiknya kepala sekolah lebih meningkatkan lagi agar efektivitas mengajar guru lebih maksimal.
2. Kepada Para guru Sekolah dasar islam plus cahaya insan, Depok.
bagi para guru yang memiliki masalah dalam mengajar agar tidak segan – segan untuk mengkonsultasikan permasalahannya kepada kepala sekolah supaya mendapatkan solusi yang terbaik.











DAFTAR PUSTAKA
Ametumbun, N.A, Organisasi dan kepemimpinan suatu pendekatan dan tingkah laku, Bandung : IKIP, 1985.
Arikunto, Suharsimi, Dr. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara. 1997.
Arikunto, Suharsimi, Dr. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek . Jakarta : Rineka Cipta, 2002.
Atmodiwirio, Soebagio Manajemen Pendidikan Indonsia, Jakarta : Ardadizya jaya, 2000.
Bahri, Djamarah, Syaiful, Drs. Strategi Belajar Mengajar. Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2002.
Burhanuddin. Analisis Administrasi Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan. Jakarta : Bumi Aksara , 1994.
Echols, Jhon. M, dan Hasan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta : Gramedia
Hamalik, Oemar, Kurikulum dan Ranah Afektif. Pembelajaran, Jakarta : Bumi Aksara, 2005.
Handoko, Hani, T. Pengantar Manajemen. Jogyakarta : BPFE. Edisi ke2.1986
Hadi, Amirul dan Haryono, Metodologi Penelitian Pendidikan, Bandung : Pustaka Setia, 1988.
Indrafachrudi, Soekarto, Administrasi Pendidikan,Malang : IKIP Malang, 1989.
Kartono, Kartoni, Pemimpin dan kepemimpinan Jakarta: P.T. Raja Grafindo Persada, 1994.
Lazaruth, Soewardi, Kepala sekolah dan tanggung jawabnya, Yogyakarta : Kanisius, 1994.
McMahon, Walter, W. Sistem Informasi Manajemen Berbasis Efisiensi, Jakarta : Logos. 2003.
Mulyasa, E, DR, M.Pd, Manajemen Berbasis Sekolah, Bandung : Rosdakarya. 2004.
Mulyasa, E, DR, MPd, Menjadi Kepala Sekolah Profesional, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2004.
Nasution, S, Prof, Dr, M.A. Didaktik Asas-asas Mengajar. Jakarta : Bumi Aksara. 2004.
Nawawi, Hadari dan Martini, Hadari, Kepemimpinan yang Efektif, Yogyakarta : Gajah Mada University Press, 2002.
Poerwanto, Ngalim, M, Drs, MPd. Administrasi dan Supervisi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya. 2003.
Uchyana, Onong, Psikologi Manajemen, Bandung : Alumni 1985.
Siagian, P. Sondang, Manajemen sumberdaya manusia, Jakarta : bumi aksara, 2000.
Sofiah, siti, Hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru di SMA Islam Panglima besar Soedirman, Cijantung, Jakarta Timur, Jakarta :UIN Syarif hidayatullah Jakarta, 2006
Sujana, Metoda Statistika, Bandung: Tarsito, 2002.
Sudjana, Nana, Teknologi Pengajaran, Bandung : PT Sinar Baru Algensindo. 2001.
Sudijono, Anas, Prof, Drs. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta : Raja Grafindo Persada. 2003.
Sulistiyo, Agus, Kamus Bahasa Indonesia, Surakarta : ITA, 1999.
Syafaruddin, Manajemen Lembaga Pendidikan Islam, Jakarta: Ciputat pres, 2005.
Uzer, Usman, M. Menjadi Guru Profesional, Bandung : Rosdakarya.1992.
Wayne, Pace, R. “Komunikasi Organisasi”. Bandung : Remaja Rosdakarya. 2002.
http://belajar-kepemimpinan.blogspot.com
http://neobangetz.blogspot.com
















MOTTO


“ Sesungguhnya Allah tidaklah menahan ilmu dari manusia, tetapi Dia menahan ilmu dengan diambilnya para ulama, sehingga jika sudah tidak ada lagi seorang ahli agama islam, maka manusia lalu mengangkat orang-orang bodoh sebagai pemimpin mereka. Maka bertanyalah orang-orang, lalu dijawablah dengan tanpa ilmu, maka sesatlah mereka dan menyesatkan “ (HR. Bukhori dan Muslim)






“ Kupersembahkan untuk keluargaku tercinta “.









ABSTRAK

SEPRIWAN ADIKO. Hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru Sekolah Dasar Islam Plus (SDIP) Cahaya Insan, Cimanggis, Depok. Skripsi. Depok : Jurusan tarbiyah, Maret 2010.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan efektivitas mengajar guru. Penelitian ini menggunakan metode kuesioner dilakukan pada bulan Februari 2010.
Data diperoleh dari penyebaran angket dan dianalisa dengan menggunakan product moment. Populasi penelitian adalah semua guru sekolah dasar islam plus cahaya insan yang berjumlah 20 orang.
Istrumen penelitian yang dipergunakan untuk mengetahui data gaya kepemimpinan kepala sekolah dan efektivitas mengajar guru dalam bentuk skala likert/ sikap yang tediri dari masing-masing 15 pernyataan.
Uji coba instrument menghasilkan data validitas dan reliabilitas diperoleh alpha cronbach = 0,845 dan 0,719 dengan responden 30. Dengan demikian berarti instrumen yang digunakan telah memenuhi syarat keterandalan.
Dari hasil perhitungan dengan korelasi menghasilkan r = 0,35 , dapat diketahui bahwa antara perhatian orang tua dengan hasil belajar terdapat hubungan yang lemah..
Penelitian menyimpulkan bahwa t hitung 7,981 > t tabel 2,048 pada taraf signifikan 0,05 yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara perhatian orang tua dengan hasil belajar anak.

KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis, sholawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan Nabi Besar Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya.
Dalam penulisan skripsi ini penulis menyadari banyak pihak yang telah membantu dan memberikan dukungan baik moril maupun materil kepada penulis, oleh karena itu sudah sepantasnya penulis mengucapkan terima kasih dan salam hormat kepada:
1. Ibu Nurhamidah, Lc.MA, selaku ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah.
2. Bapak Nurhadi, MPd, selaku pembantu ketua satu Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah.
3. Bapak Sobirin, MPd, selaku ketua jurusan Fakultas Tarbiyah Kependidikan Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Al-Qudwah yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.
4. Bapak H. Drs. Khairudin, MSi, selaku dosen pembimbing yang telah membantu penulis serta membimbing dengan sabar sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
5. Imam Budi Darminto, SPd, selaku Kepala Sekolah dasar islam plus Cahaya Insan, Cimanggis, Depok, yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian ini.

Semoga segala amal kebaikan yang telah diberikan kepada penulis dibalas oleh Allah SWT. Harapan penulis semoga skripsi ini dapat bermanfaat khususnya bagi para mahasiswa calon guru dan umumnya bagi para pembaca. Amiin.


Depok, Maret 2010


Penulis










RIWAYAT PENULIS


SEPRIWAN ADIKO, lahir di Muara Enim pada tanggal 30 September 1986. Orang tua bernama Darman dan Iri fatma Bahini. Alamat penulis jalan Bambu apus I no 01 bambu apus, Cipayung, Jakarta timur. Pendidikan formal yang telah ditempuh penulis adalah :
1. SDN Payung Negara III Gunung megang, muara enim, Sumsel.
2. SLTP Negeri 4 pino, Bengkulu selatan, Bengkulu.
3. SMU Negeri 2 Manna, Bengkulu selatan, Bengkulu.
4. Sekolah Tinggi Islam dan Ilmu Pendidikan Harapan Umat (STISIP HARUM), Bogor.
5. Ma`had Utsman bin Affan Jakarta.
6. Sekolah Tinggi Agama Islam al-Qudwah (STAIQ), Depok.

1 komentar: