Laman

Laman

Rabu, 11 Mei 2011

Qashash (Kisah-Kisah) dalam Alquran

Biasanya suatu peristiwa yang dikaitkan dengan hukum kausalitas akan dapat menarik perhatian para pendengar. Apalagi dalam peristiwa itu mengandung pesan-pesan dan pelajaran mengenai berita-berita bangsa terdahulu yang telah musnah, maka rasa ingin tahu untuk menyikap pesan-pesan dan peristiwanya merupakan faktor yang paling kuat yang tertanam dalam hati. Dan suatu nasihat dengan tutur kata yang disampaikan secara monoton, tidak variatif tidak akan mampu menarik perhatian akal, bahkan semua isinya pun tidak akan mampu dipahami. Akan tetapi bila nasihat itu dituangkan dalam bentuk kisah yang menggambarkan suatu peristiwa yang terjadi dalam kehidupan, maka akan dapat meraih apa yang dituju. Orang pun tidak akan bosan mendengarkan dan memperhatikannya, dia akan merasa rindu dan ingin tahu apa yang dikandungnya. Akhirnya kisah itu akan menjelma menjadi suatu nasihat yang mampu mempengaruhinya.

Sastra yang memuat kisah, dewasa ini telah menjadi disiplin seni yang khusus di antara seni-seni lainnya dalam bahasa dan kesusastraan. Tetapi “kisah-kisah nyata” Al-Qur’an telah membuktikan bahwa redaksi kearaban yang dimuatnya secara jelas menggambarkan kisah-kisah yang paling tinggi nilainya.

Allah SWT menurunkan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad SAW. Yang mengandung tuntunan-tuntunan bagi manusia untuk mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta kebahagian lahir dan batin. Selain menggunakan cara yang langsung, yaitu berbentuk perintah dan larangan, adakalanya tuntunan tersebut disampaikan melalui kisah-kisah (Qashash), dengan tujuan untuk menjelaskan bantahan terhadap kepercayaan-kepercayaan yang salah dan bantahan terhadap setiap bujukan untuk berbuat ingkar.

Oleh karena itu di dalam Al-Qur’an kita mendapatkan banyak kisah Nabi-nabi, Rasul-rasul dan umat-umat yang terdahulu, maka yang dimaksudkan dengan kisah-kisah itu adalah pengajaran-pengajaran dan petunjuk-petunjuk yang berguna bagi para penyeru kebenaran dan bagi orang-orang yang diseru pada kebenaran.

Lantaran inilah maka Al-Qur’an tidak menguraikan kisahnya seperti kitab sejarah tetapi memberi petunjuk. Petunjuk itu bukan dalam mengetahui kelahiran Rasul dan keturunan serta kejadian-kejadiannya. Tetapi petunjuk itu di dapatkan dalam cara Rasul mengembangkan kebenaran dan dalam penderitaan-penderitaan yang dialami oleh para Rasul itu pula.

Untuk lebih jelasnya penulis akan membahasnya di dalam makalah ini yaitu tentang qashash Al-Qur’an yang meliputi pengertian qashash Al-Qur’an, ragam kisah dalam budaya Arab Jahiliyah, ungkapan kisah dalam Al-Qur’an, rahasia pengulangan kisah dalam Al-Qur’an dan rahasia nama gelar, tokoh dalam kisah.

A- Pengertian Qashash Al-Quran

Kata qashash berasal dari kata al-qashshu[1] yang berarti mencari atau mengikuti jejak. Dikatakan,, “qashashtu atsarahu “ artinya, “saya mengikuti atau mencari jejaknya.” Kata al-qashash adalah bentuk masdar. Seperti firman Allah: Dia (Musa) berkata, “itulah (tempat) yang kita cari.” Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak semula. (Al-Kahfi: 64).

Kemudian qashash juga berarti berita yang berurutan. Seperti firman Allah: “Sesungguhnya ini adalah berita yang benar” (Al-Imran: 62). “Sungguh, pada berita mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal” (Yusuf:111)

Secara etimologi (bahasa), Qashash juga berarti urusan (al-amr), berita (khabar), dan keadaan(hal). Dalam bahasa Indonesia, kata itu diterjemahkan dengan kisah yang berarti kejadian.

Adapun dalam pengertian terminologi (istilah) Qashash al-Quran adalah kisah-kisah dalam Al-Qur’an tentang para Nabi dan Rasul mereka serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang.

Hal senada juga dikemukakan oleh Manna’ Al-Qathan, bahwa qashash Al-Qur’an adalah pemberitaan Al-Qur’an tentang hal ihwal umat yang telah lalu, nubuwat yang terdahulu, dan peristiwa-peristiwa yang telah terjadi.[2]

Berdasarkan pengertian di atas, maka dapatlah kita katakan bahwa kisah-kisah yang dimuat dalam Al-Qur’an semuanya cerita yang benar-benar terjadi, tidak ada cerita fiksi, khayal, apalagi dongeng.

B. Ragam Kisah dalam Budaya Arab Jahiliyah

Kebiasaan mengembara membuat orang-orang Arab senang hidup bebas, tanpa aturan yang mengikat sehingga mereka menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan. Pada musim paceklik dan musim panas, mereka terbiasa melakukan perampasan sebagai sarana hidup.

Peperangan antar kabilah untuk merebut sumber mata air menjadi tradisi yang kuat, bahkan berlanjut dari generasi ke generasi. Karena itu, mereka membutuhkan keturunan yang banyak terutama anak laki-laki untuk menjaga kehormatan kabilahnya.

Sementara anak perempuan, dalam pandangan mereka dianggap sebagai makhluk inferioritas yang tidak memberikan kontribusi apa pun, maka dengan terpaksa harus dikubur “hidup-hidup”.

Jika malam tiba, mereka mengisinya dengan hiburan malam yang sangat meriah. Sambil meminum minuman keras para penyanyi melantunkan lagu-lagu dengan iringan musik yang iramanya menghentak-hentak dari tetabuhan yang terbuat dari kulit.

Dalam keadaan mabuk jiwa mereka melayang-layang penuh dengan khayalan, kenikmatan, dan keindahan. Dan dengan bermabuk-mabukan itu pula mereka dapat melupakan kesulitan dan kekerasan hidup di tengah padang pasir.[3]
Namun di balik watak dan prilaku keras mereka memiliki jiwa seni yang sangat halus dalam bidang sastra, khususnya syair.

Al-Qur’an, turun dalam situasi di mana bahasa dan sastra Arab (Jahiliyah) mencapai puncak kejayaan. Al-Qur’an tampil dengan berbahasa Arab, agar dapat dipahami oleh manusia pada waktu itu. Sebagaimana firman Allah: [4] “Sesungguhnya Kami menurunkannya berupa Al-Qur’an berbahasa Arab, agar kamu mengerti” (Q.S. Yusuf: 2)

Para penyair ketika itu memiliki kedudukan yang sangat terhormat pada setiap kabilah, karena mereka dianggap sebagai penjaga martabat serta kehormatan kabilahnya. Dengan begitu mereka disanjung-sanjung setinggi langit oleh kabilahnya.[5]

Perang pena antara penyair antar kabilah, telah membawa mereka kepada sebuah kompetisi syair yang di selenggarakan di suatu pasar yang disebut Ukazh. Dari perang pena yang terjadi di Ukazh, lahirlah karya-karya sastra yang lebih dikenal dengan sebutan “mu’allaqat”. Disebut mu’allaqat, karena syair yang terpilih menjadi yang terbaik – konon katanya – akan digantungkan di dinding ka’bah dan ditulis dengan tinta mas.[6]

C. Ungkapan kisah dalam Al-Qur’an
Dalam mengemukakan kisah, Al-Qur’an tidak segan untuk menceritakan kelemahan manusia. Namun, hal tersebut digambarkan sebagaimana adanya, tanpa menonjolkan segi-segi yang dapat mengundang rangsangan. Kisah tersebut biasanya diakhiri dengan menekankan akibat dari kelemahan diri seseorang yang digambarkannya, pada saat kesadaran manusia dan kemenangannya mengatasi kelemahan itu.[7] Sebagai contoh, kisah Qarun yang diungkapkan dalam Surat Al-Qashash: 78-81:

“ Dia (Qarun) berkata, “Sesungguhnya aku beri (harta itu), semata-mata karena ilmu yang ada padaku.” Tidakkah dia tahu, bahwa Allah telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan orang-orang yang berdosa itu tidak perlu ditanya tentang dosa-dosa mereka. Maka keluarlah dia (Qarun) kepada kaumnya dengan kemegahannya. Orang-orang yang menginginkan kehidupan dunia berkata, “Mudah-mudahan kita mempunyai harta kekayaan seperti yang telah diberikan kepada Qarun, sesungguhnya dia benar-benar mempunyai keberuntungan yang besar”. Tetapi orang-orang yang dianugrahi ilmu berkata,: Celakalah kamu! Ketahuilah, pahala Allah lebih baik bagi orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, dan (pahala yang besar) itu hanya diperoleh oleh orang-orang yang sabar. (Al-Qashash: 78-81)[8]

Demikian pula kisah Nabi Sulaiman, ketika terpengaruh oleh keindahan kuda-kudanya. Sebagaimana yang dikisahkan dalam Surat Shad 30-35:

“Dan kepada Dawud Kami karuniakan (anak bernama) Sulaiman, dia adalah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat ta’at (kepada Tuhannya). (ingatlah) ketika dipertunjukkan kepadanya kuda-kuda yang tenang di waktu berhenti dan cepat waktu berlari pada waktu sore. Maka ia berkata: “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap barang yang baik (kuda) sehingga aku lalai mengingat Tuhanku sampai kuda itu hilang dari pandangan”. “Bawalah semua kuda itu kembali kepadaku”. Lalu ia potong kaki dan leher kuda itu. Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman dan Kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah karena sakit), kemudian ia bertaubat. Ia berkata: “Ya Tuhanku, ampunilah aku dan anugrahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun sesudahku, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Pemberi.”(Shad: 30-35)

Pada hakikatnya masih banyak kisah-kisah yang termaktub didalam al-Qur’an namun ungkapan kisah yang banyak terdapat dalam Al-Qur’an adalah surat al-Qashash, al-Anbiya, Yusuf.

Manna’ Al-Qathan, membagi qashas Al-Quran dalam tiga bagian, yaitu:

a. Kisah para nabi terdahulu
Bagian ini berisikan ajakan para nabi kepada kaumnya;mukjizat-mukjizat dari Allah yang memperkuat dakwah mereka, sikap orang-orang yang memusuhinya, serta tahapan-tahapan dakwah perkembangannya, dan akibat yang menimpa orang beriman dan orang yang mendustakan para nabi. Contohnya:

* Kisah Nabi Adam (QS.Al-Baqarah : 30-39. Al-Araf : 11 dan lainnya);
* Kisah Nabi Nuh (QS.Hud : 25-49);
* Kisah Nabi Hud (QS. Al-A’Raf: 65, 72, 50, 58);
* Kisah Nabi Idris (QS.Maryam: 56-57, Al-Anbiya: 85-86);
* Kisah Nabi Yunus (QS.Yunus: 98, Al-An’am: 86-87);
* Kisah Nabi Luth (QS.Hud: 69-83);
* Kisah Nabi Salih (QS.Al-A’Raf: 85-93);
* Kisah Nabi Musa (QS.Al-Baqarah: 49, 61, Al-A’raf: 103-157) dan lainnya;
* Kisah Nabi Harun (QS.An-Nisa: 163);
* Kisah Nabi Daud (QS.Saba: 10, Al-Anbiya: 78);
* Kisah Nabi Sulaiman (QS.An-Naml : 15, 44, Saba: 12-14);
* Kisah Nabi Ayub (QS. Al-An ‘am: 34, Al-Anbiya: 83-84);
* Kisah Nabi Ilyas (QS.Al-An’am: 85);
* Kisah Nabi Ilyasa (QS.Shad: 48);
* Kisah Nabi Ibrahim (QS.Al-Baqarah: 124, 132, Al-An’am: 74-83);
* Kisah Nabi Ismail (QS.Al-An’am: 86-87);
* Kisah Nabi Ishaq (QS.Al-Baqarah: 133-136);
* Kisah Nabi Ya’qub (QS.Al-Baqarah: 132-140);
* Kisah Nabi Yusuf (QS.Yusuf: 3-102);
* Kisah Nabi Yahya (QS.Al-An’am: 85);
* Kisah Nabi Zakaria (QS.Maryam: 2-15);
* Kisah Nabi Isa (QS.Al-Maidah: 110-120);
* Kisah Nabi Muhammad (QS.At-Takwir: 22-24, Al-Furqan: 4, Abasa: 1-10, At-Taubah: 43 -57 dan lainnya.

b. Kisah yang berhubungan dengan kejadian pada masa lalu dan orang-orang yang tidak disebutkan kenabiannya

* Kisah tentang Luqman (QS.Luqman: 12-13);
* Kisah tantang Dzul Qarnain (QS. Al-Kahfi: 83-98);
* Kisah tentang Ashabul Kahfi (QS.Al-Kahfi: 9-26);
* Kisah tentang thalut dan jalut (QS.Al-Baqarah: 246-251);
* Kisah tentang Yajuj Ma’fuz (QS.Al-Anbiya: 95-97);
* Kisah tentang bangsa Romawi (QS.Ar-Rum: 2-4).

c Kisah-kisah yang terjadi pada masa Rasulullah

* Kisah tentang Ababil (QS.Al-Fil: 1-5);
* Kisah tentang hijrahnya Nabi SAW (QS.Muhammad: 13);
* Kisah tentang perang Badar dan Uhud (QS. Ali Imran);
* Kisah tentang perang hunain dan At-Tabuk (QS. Taubah).

Kisah dalam Al-Qur’an bukanlah suatu gubahan yang hanya bernilai sastra saja akan tetapi kisah dalam Al-Qur’an merupakan salah satu media untuk mewujudkan tujuan aslinya. Oleh karena itu kisah yang ada didalam Al-Qur’an bersifat hakiki sedangkan kisah yang dibuat manusia bersifat khayali. Pada masa sekarang telah banyak timbul penjabaran kisah-kisah yang tidak dijelaskan di dalam Al-Quran. Kisah-kisah ini berasal dari sejarah. Kisah-kisah dalam al-Qur’an hanya dikemukakan secara singkat dengan menitik beratkan pada aspek-aspek nasehat dan ibrahnya, tidak mengungkapkan secara detil, seperti nama-nama negeri dan nama-nama pribadi. Adapun Taurat dan Injil mengemukakannya secara panjang lebar dan detil.

Ketika Ahli Kitab masuk Islam, mereka masih membawa pengetahuan keagamaan mereka berupa cerita dan kisah keagamaan. Dan di saat membaca kisah-kisah dalam Al-Qur’an, terkadang mereka memaparkan kisah itu seperti yang terdapat dalam kitab-kitab mereka. Olehkarena itu para sahabat cukup berhati-hati terhadap kisah-kisah yang mereka bawakan itu. Berita-berita yang diceritakan Ahli Kitab yang masuk Islam itulah yang dinamakan Isra’iliyat.

Kisah-kisah dalam Al-Qur’an secara umum bertujuan kebenaran, seperti ungkapan kisah di atas. Jika di lihat dari keseluruhan kisah yang ada maka banyak faedah yang terdapat dalam qashash Al-Qur’an sebagaimana yang diutarakan Manna’ Al-Qaththan berikut ini:

1. Menjelaskan prinsip-prinsip dakwah agama Allah dan pokok-pokok syari’at yang dibawa oleh setiap nabi. Dalam hal ini, Allah telah berfirman dalam surat Al-Anbiya ayat 25 : “ Dan kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya, “ Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku” (QS.Al-Anbiya:25)
2. Meneguhkan hati Rasulullah dan hati umatnya dalam menegakkan agama Allah, serta menguatkan kepercayaan orang-orang yang beriman melalui datangnya pertolongan Allah dan hancurnya kebatilan beserta para pendukungnya. Faedah ini tercantum dalam Al-Quran surat Hud ayat 120: “ dan semua kisah yang rasul-rasul Kami ceritakan kepadamu ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran da peringatan bagi orang-orang yang beriman.” (QS.Hud:12).
3. Membenarkan nabi-nabi terdahulu dan mengingatkan kembali jejak-jejak mereka.
4. Memperlihatkan kebenaran Nabi Muhammad dalam penuturannya mengenai orang-orang terdahulu;[9]
5. Membuktikan kekeliruan ahli kitab yang telah menyembunyikan keterangan dan petunjuk. Disamping itu, kisah-kisah itu memperlihatkan isi kitab suci mereka sesungguhnya, sebelum diubah dan direduksi, sebagaimana dijelaskan firman Allah pada Ali Imran ayat 93 : “ Semua makanan adalah halal bagi Bani Israil melainkan makanan yang diharamkan oleh Israil (Ya’kub) untuk dirinya sendiri sebelum Taurat diturunkan. Katakanlah. “Jika kamu mengatakan ada makanan yang diharamkan sebelum turun Taurat), maka bawalah Taurat itu, lalu bacalah dia jika kamu orang-orang yang benar.” (Q.S Ali-Imran: 93)
6. Kisah merupakan salah satu bentuk sastra yang menarik bagi setiap pendengarnya dan memberikan pengajaran yang tertanam dalam jiwa.[10] Sebagaimana dijelaskan firman Allah dalam surat Yusuf ayat 111: “ Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. Al-Quran itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya dan menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi kaum beriman.”(QS. Yusuf:111)

Sedangkan manfaat qashash yang paling penting adalah untuk menanamkan fitrah manusia yang cendrung dikisahkan dan cara untuk mengusir kebosanan sehingga inti dari kisah yang diceritakan tersampaikan.

D. Rahasia Pengulangan Kisah dalam Al-Qur’an
Al-Qur’an banyak mengandung kisah-kisah yang diungkapkan secara berulang kali di beberapa tempat. Sebuah kisah terkadang berulang kali disebutkan dalam Al-Qur’an dan dikemukakan dalam berbagai bentuk yang berbeda. Demikian pula terkadang dikemukakan secara ringkas dan kadang-kadang secara panjang lebar, dan sebagainya. Menurut Manna’ Al-Qaththan, bahwa kisah-kisah dalam Al-Qur’an mengandung beberapa rahasia diantara rahasianya adalah:

1. Menjelaskan ke-balaghah-an Al-Qur’an dalam tingkat paling tinggi. Sebab di antara keistimewaan balaghah adalah mengungkapkan sebuah makna dalam berbagai macam bentuk yang berbeda satu dengan yang lain serta dituangkan dalam pola yang berlainan pula, sehingga tidak membuat orang merasa bosan karenanya, bahkan dapat menambah ke dalam jiwanya makna-makna baru yang tidak didapatkan di saat membacanya di tempat lain.
2. Menunjukkan kehebatan mukjizat Al-Quran. Sebab mengemukakan sesuatu makna dalam berbagai bentuk susunan kalimat di mana salah satu bentuk susunan kalimat di mana salah satu bentuk pun tidak dapat ditandingi oleh sastrawan Arab, merupakan tantangan dasyat dan bukti bahwa Al-Qur’an itu datang dari Allah.
3. Memberikan perhatian besar terhadap kisah tersebut agar pesan-pesannya lebih berkesan dan melekat dalam jiwa. Karena itu pada dasarnya pengulangan merupakan salah satu metode pemantapan nilai. Misalnya kisah Musa dengan Fir’aun. Kisah ini menggambarkan secara sempurna pergulatan sengit antara kebenaran dengan kebatilan. Dan sekalipun kisah itu sering diulang-ulang, tetapi pengulangannya tidak pernah terjadi dalam sebuah surat.
4. Setiap kisah memiliki maksud dan tujuan berbeda. Karena itulah kisah-kisah itu diungkapkan. Maka sebagian dari makna-maknanya itulah yang diperlukan, sedang makna-makna lainnya dikemukakan di tempat yang lain sesuai dengan tuntutan keadaan.[11]

E. Rahasia nama gelar, tokoh dalam kisah
Dalam mengungkapkan kisah peristiwa-peristiwa yang sudah dan akan terjadi, Al-Qur’an menyebutkan beberapa pelaku atau tokoh dari suatu peristiwa. Terkadang pelaku peristiwa tidak disebutkan secara langsung dalam Al-Qur’an, tetapi hanya secara maknawi, terutama kisah-kisah yang pelakunya secara kolektif, maka hanya disebutkan secara simbolis, seperti: kaum ‘Ad, kaum Luth, Bani Israil, kaum Quraisy dan lain sebagainya.

Tidak jarang juga pelaku kisah dalam Al-Quran disebutkan namanya langsung, contohnya:

a. Nama Nabi, Seperti:

1. Adam (QS.Al-Baqarah (ayat 31, 33, 34, 35, 37);
2. Nuh (QS.Hud ayat 25, 32, 42, 45, 46, 48, 89);
3. Idris (QS. Maryam ayat 57 dan QS.Al-Anbiya ayat 85);
4. Ibrahim (QS.Hud ayat 69, 74, 75, 76);
5. Isma’il (QS.Al-Baqarah ayat 125,127,133,136,140);
6. Ishaq (QS.Al-Baqarah ayat 132,133,136,140);

b. Nama Malaikat, seperti:

1. Jibril (QS.At-Tahrim ayat 4 dan QS. Al-Baqarah (2) ayat 97, 98);
2. Mika’il (QS.Al-Baqarah ayat 98).

c. Nama Sahabat, seperti Zaid bin Harist (QS.Al-Ahzab ayat 37)

1. Nama tokoh terdahulu non-Nabi dan Rasul, seperti:
2. Imran (QS.Ali-Imran ayat 33, 35);
3. Uzair (QS.Yunus ayat 30); dan
4. Tuba’ (QS.Ad-Dukhan ayat 37)

d. Nama Wanita, seperti: Maryam (QS.Ali-Imran ayat 36, 37, 42, 43, 45)

Disamping nama pelaku, Al-Quran juga menuturkan gelar pelaku kisah, seperti Abu Lahab pada Q.S Al-Lahab ayat 1, namanya sendiri adalah Abdul Uzza.[12]

Adapun rahasia dari penggunaan nama gelar dan tokoh dalam kisah adalah:

1. Kita dapat mencontoh kisah-kisah kehidupan para Nabi, orang-orang yang beriman dan beramal saleh;
2. Memudahkan kita untuk mengingat kisah-kisah tersebut;
3. Memudahkan kita dalam memahami maksud dan tujuan kandungan kisah dalam Al-Qur’an.



F. Penutup

Secara etimologi (bahasa), Qashash adalah urusan (al-amr), berita (khabar), dan keadaan (hal). Dalam bahasa Indonesia, kata itu diterjemahkan dengan kisah yang berarti kejadian.

Sedangkan secara terminologi (istilah) Qashash al-Quran adalah kisah-kisah dalam Al-Qur’an tentang para Nabi dan Rasul mereka serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa lampau, masa kini, dan masa yang akan datang.

Banyak kisah-kisah yang diungkapkan di dalam Al-Qur’an seperti kisah Qarun, Nabi Sulaiman dan kisah-kisah yang lain.

Faedah qashash dalam Al-Qur’an adalah:

1. Menjelaskan prinsip-prinsip dakwah agama Allah dan pokok-pokok syari’at yang dibawa oleh setiap nabi.
2. Meneguhkan hati Rasulullah dan hati umatnya dalam menegakkan agama Allah, serta menguatkan kepercayaan orang-orang yang beriman melalui datangnya pertolongan Allah dan hancurnya kebatilan beserta para pendukungnya.
3. Membenarkan nabi-nabi terdahulu dan mengingatkan kembali jejak-jejak mereka;
4. Memperlihatkan kebenaran Nabi Muhammad dalam penuturannya mengenai orang-orang terdahulu
5. Membuktikan kekeliruan ahli kitab yang telah menyembunyikan keterangan dan petunjuk.
6. Kisah merupakan salah satu bentuk sastra yang menarik bagi setiap pendengarnya dan memberikan pengajaran yang tertanam dalam jiwa.

Menurut Manna’ Al-Qaththan, rahasia pengulangan kisah dalam Al-Qur’an adalah:

1. Menjelaskan ke-balaghah-an Al-Qur’an dalam tingkat paling tinggi;
2. Menunjukkan kehebatan mukjizat Al-Quran;
3. Memberikan perhatian besar terhadap kisah tersebut agar pesan-pesannya lebih berkesan dan melekat dalam jiwa;
4. Setiap kisah memiliki maksud dan tujuan berbeda.

Adapun rahasia yang dapat diambil dari penggunaan nama gelar dan tokoh dalam kisah adalah:

1. Kita dapat mencontoh kisah-kisah kehidupan para Nabi, orang-orang yang beriman dan beramal saleh;
2. Memudahkan kita untuk mengingat kisah-kisah tersebut;
3. Memudahkan kita dalam memahami maksud dan tujuan kandungan kisah dalam Al-Qur’an.

***



Catatan Kaki:

[1] Mahmud Yunus, Kamus Arab-Indonesia,

[2] Syaikh Manna’ Al-Qaththan, Pengantar Studi Ilmu Al-Qur’an,

[3] Badri Yatim dan H. D. Sirojuddin AR, Sejarah Peradaban Islam,

[4] Q.S Yusuf: 2

[5] Umar Farukh, Tarikh al-Adab al-‘Arabiy (al-Adab al-Qadim min Mathla’ al-Jahiliyyah Ila Suquth al-Daulah al-Umawiyyah) (Beirut: Dar al-Ilmi Lilmalayin, 1997),

[6] Umar Farukh, Tarikh al-Adab…….,

[7] Umar Shihab, Konstektualitas Al-Qur’an: Kajian Tematik atas Ayat-ayat Hukum dalam Al-Qur’an,

[8] Q.S Al-Qashash: 78-81

[9] Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir,

[10] Manna Al-Qaththan, Pengantar……,

[11] Syaikh Manna’ Al-Qaththan, Pengantar …….,

[12] Imam Jalaluddin As-Suyuti, Samudera Ulumul Qur’an, Jilid 4,

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar